Suatu malam yang sunyi dan tenang aku terjaga. Kudengar sayup-sayup bacaan al-Quran dari kamar kakakku. Alhamdulillah, ucap syukurku dalam hati. Tak biasanya dan sudah sangat lama aku tidak mendengar dia membaca kitab suci. Setahuku selama ini kitab sucinya telah berganti; yang pertama adalah tabloid Bola, yang kedua majalah OtoSport, dan yang terakhir adalah Katalog Pameran Seni Rupa. Bagaimana tidak setiap selasa dan jumat ia membeli tabloid tersebut, setiap sebulan sekali beli majalah Oto dan setiap hari kerjanya bolak-balik lembar katalog yang semakin hari terus bertambah setiap kali ada acara pembukaan pameran. Aku sebenarnya sangat sayang kepadanya, dan menurutku pola hidupnya semakin hari semakin tidak sehat. Makan-nya tidak teratur, setiap malam bergadang, kopi dan rokok tak ada indikasi untuk dikurangi. Walaupun sering kutegur, tetapi selalu saja ada alasan yang dikatakannya.
Kutengok jam didinding kamar, pukul 01:12. Karena kepalaku agak pusing, akupun melanjutkan tidur lagi. Siapa tahu mimpi indah yang tadi, boleh kusambung kembali… Keesokan harinya aku masuk kekamar kakakku. Ia sedang asyik dengan kuas dan catnya. Melukis adalah panggilan hati, kata-katanya yang selalu kuingat. Padahal menurutku melukis adalah buang-buang waktu, pemborosan cat dan tenaga, untuk suatu hal yang belum tentu ada untung-manfaatnya. Pendapat yang sangat subyektif ini, merupakan implementasi dari kehidupan kakakku sendiri atas perjalanan kehidupannya yang sesekali kubaca dan kucatat. Memang sih banyak juga dari teman-temannya yang “berhasil” dalam karier melukis. Tentu saja berhasil dalam pandangan masyarakat umum sekarang. Setidaknya indikasinya adalah kebutuhan ekonomi yang tercukupi, dan setidaknya punya tabungan masa depan, karena profesi ini saya lihat cukup beresiko. Haha.. namun debat dan tukar pikiran dengannya selama ini belum memuaskanku, selain meluasnya pandanagnku dan pengenalanku kepada siapa jati diri kakakku yang sebenarnya sebagai salah satu lulusan kampus seni terpandang di Yogyakarta. Andalannya adalah lukisan itu termasuk infestasi,… iya, infestasi untuk makanan rayap dan tikus sanggahku.
Akupun mulai ingat apa tujuanku hari ini, oh ya, mencari tahu ada angin apa semalam, kok putrid dengar kakak membaca atau lebih tepatnya nderes kitab suci semalam, tanyaku ketika membuka obrolan.
“Ah, kata siapa kakak nderes kitab suci semalam?” Jawabnya.
“Alah, ngaku aja kak, sudah tobat yah?? Atau lagi putus cinta, atau jangan-jangan mau melet cewe?”. Desakku mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan disembunyikan dariku.
“Melet cewe, tuh buat si Azza, biar lengket sama kakak.” Katanya.
“Ia kan cantik, pinter ngaji, anak tunggal, bapak ibunya haji, kaya dan baik hati.” Selanya lagi.
“ Ah, gak mungkin percaya. Azza kan cuma dewi khayalannya kakak, lah ngelantur lagi dech…” jawabku sambil nyengir. Sebuah jawaban yang tak pernah serius dalam menerima pertanyaanku.
Kakakku yang satu ini emang susah ditebak apa maunya. Banyak main rahasia-rahasiaan padahal sama adiknya sendiri. Tapi itu tak jadi masalah, karena suatu saat pasti ia menerangkan atau memberi tahu apa yang sedang dalam pikirannya. Atau pilihan tindakannya dimasa lampau. Dan aku terkadang juga tidak ingin mengerti terlalu jauh apa yang memang sedang disembunyikannya. Rencana jangka pendek maupun jangka panjang kehidupannya adalah sebuah jalan bukannya tujuan. Aku menyimpan doa disana, bersama setiap anggota keluarga kami.
Kulihat kitab suci al-Qur’an di atas rak bukunya. Terlihat usang, sudah tak bersampul kover tebal yang biasanya menjadi satu bagian dengan kitab suci. Di pangkal dan ujung tiap lembarnya terlihat tidak sejajar atau tidak rata lagi, melainkan sudah banyak yang menggulung ke atas, bahkan beberapa halaman awal, terlihat robek di sepertiga atasnya. Menunjukkan sudah cukup berumur atau setidaknya sering dibuka oleh pemiliknya.
Melihat pemandangan artistik dari kitab suci dikamar kakakku, hatiku agak trenyuh. Dalam pikirku, kenapa aku tidak membelikan al-Qur’an baru untuknya. Maka dalam hati aku ingin menghadiahkan kepadanya disaat lebaran nanti atau saat nuzulul Qur’an dimana sebagai pengingat turunnya wahyu al-qur’an.
Dia tiba-tiba berkata “Tidak usah kamu belikan yang baru, kitab itu punya kenangan tersendiri buat kakak. Kamu ingat Pak Jun? beliau orang pertama yang mengajari kita membaca alqur’an dengan tajwid dan kaidahnya”.
Aku mengangguk. Beliau adalah guru dengan spesifikasi bacaan al-qur’an dikampungku, yang sudah wafat kurang lebih tiga tahun yang lalu. Di hadapan beliau, Kakak ketika mengaji seringkali menggunakan al-quran tersebut.
Kakakku melanjutkan perkataannya “Tadi malam seakan-akan beliau hadir di sini, menjumpai kakak yang semakin tak berarti.”
“semalam aroma minyak wangi yang sering beliau pakai tercium begitu kuat di benak kakak.”
“ Mungkin saja bekasnya masih meresap menyatu di al-qur’an ini, karena kakak selalu mencium tangan beliau seusai mengaji. Dan ketika berjalan pulang ke rumah, aroma minyak yang turut melekat di tangan bersama keringat ruhani menyatu dengan kitab suci yang tergengam erat di dada.”
Mendengar penjelasan itu, aku teringat betul masa-masa sebelum pergi melanjutkan belajar di Jogjakarta, dimana aku meminta restu kepada beliau. Dengan dipimpin beliau, kami bersama kawan-kawan dengan semangat membaca tahlil dan Sholawat kepada nabi Muhammad. Saat itu suasana malam terasa terang benderang penuh keasyikan walaupun kampung kami sangat jauh dari gemerlapnya kota.
Setelah itu aku pun mencium aroma minyak yang tak asing dalam benak ingatanku, Kami pun tertunduk diam, menghadiahkan bacaan sirr ummul kitab kepada beliau yang begitu menyayangi dan kami hormati.
Samitalona, 6 Agustus 2010
Tampilkan postingan dengan label KOLAM SUSU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOLAM SUSU. Tampilkan semua postingan
Wirid dan Kerjakeras
oleh: Emha Ainun Nadjib
Tanah tanpa tanaman itu omong kosong, tahayul atau klenik. Manusia yang tidak mengakarkan dan menumbuhkan tanaman di atas tanah, akan hanya menjadi manusia hutan belantara yang hidupnya bergantung pada tanaman sunnah (tradisi penciptaan) Allah.
Hidupnya sudah produktif, tidak kreatif, tidak inovatif, dan itu artinya tidak setia kepada daya kerja dan kewajiban menggerakkan kehidupan yang berasal dari Allah.
Tanaman yang ditumbuhkan hanya di pot atau tabung yang memisahkan hubungannya dengan syariat bumi, alias hanya mengeksploitir bumi itu dengan hanya mengambil beberapa jumput tanah untuk ditaruh untuk ditaruh di dalam pot itu - juga tidak akan menemukan daya guna maksimal dan potensialitas alam.
Dengan batas 'kosmologi' pot itu manusia jadinya juga memutuskan hubungan dengan sumber, sehingga tidak akan tercapai pula titik tuju kehidupannya. Ia bersikap a-historis terhadap sejarah eksistensi kehidupannya, serta berlaku tidak ilmiah terhadap kenyataan dirinya.
Ia akan hanya memperoleh sukses yang palsu, kemajuan yang menjebak hari tuanya, produk yang temporer dan tidak sejati, dan akhirnya penyesalan menjelang maut.
Kita tidak ikut memperjuangkan proses kelahiran diri kita, sehingga tanggung jawab kita kepada diri kita sendiri secara alamiah cenderung kalah mendalam dibanding tanggung jawab Bapak kita atas diri kita.
Tapi karena Ibu-lah yang lebih menghayati kesengsaraan dalam melahirkan kita, maka tanggung jawab Ibu atas hidup kita lebih mendalam dibanding tanggung jawab Bapak, dan terlebih lagi dibandingkan dengan kadar tanggung jawab kita atas diri kita sendiri.
Namun demikian tanggung jawab siapapun atas diri kita tidak ada sejumput debu dibanding besarnya, agung dan setianya tanggung jawab Allah atas kehidupan kita. Karena peranNya dalam proses penciptaan dan pelahiran atas kita sama sekali jangan dibandingkan dengan peran Ibu Bapak kita.
Allah sangat konsisten, setia, mesra dan amat bertanggung jawab terhadap nafkah kita, rejeki kita, kesejahteraan kita, keselamatan dan kebahagiaan kita.
Indahnya tanggung jawab Allah itu akan sangat tampak jelas di mata ilmu kita dan kesadaran batin kita apabila pola pandang yang kita pakai dalam menilai apapun saja yang kita alami ini - berperspektif dunia akhirat, bukan hanya melalui kalkulasi dan atau berskala dunia saja atau akhirat saja.
Wirid yang kita lakukan ini berfungsi dialektis.
Pertama, ia merupakan wujud tanggung jawab kita kepada kemurahan Allah atas kehidupan kita.
Kedua, wirid itu sendiri merupakan salah satu 'perangsang' bukti tanggung jawab Allah atas hidup kita.
Semakin kita mewiridkan kekuasaan dan cintaNya di sisi kerja keras kita setiap hari, semakin Allah menunjukkan bukti tanggung jawabNya.
Sesayang-sayang Bapak dan handai tolan kepada kita, jangan pernah dipertandingkan melawan rasa sayang Allah kepada kita.
Secinta-cinta Ibu dan sanak famili kepada kita, jangan pernah dikompetisikan melawan kadar cintaNya kepada kita.
Ada perhubungan cinta segitiga, antara Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW dengan kita. Akurasi dan maksimilitas kabulnya doa kita dan suksesnya kerja keras kita, sesungguhnya minimal berbanding sejajar dengan frekwensi dan kedalam wirid kepada Allah dan RasulNya, maksimal satu wirid menjadi tujuh batang pohon barokah, di mana dari setiap pohon barokah itu terlahir seratus buah pada masing-masingnya.
Saya mengajak Anda semua pergi ke sawah lantas mencangkulnya dan menanaminya dengan kemajuan hidup dan bukannya pergi ke sawah untuk duduk bersila dan berwirid dengan harapan tanaman akan tumbuh dengan sendirinya.
Sambil bekerja keras atau disela-sela kerja keras itulah kita berwirid.
Dengan tujuan, pertama wirid itu akan merabuki tanaman kita sehingga berbuah barokah, dinamis, investatif, produktif dan menyimpan rejeki-rejeki tak terduga.
Kedua, kita sama sekali tidak mampu menjamin bahwa kita akan terus sukses, terus 'berkuasa' atau terus 'punya' ini itu. Dalam hal itu tradisi wirid akan menghindarkan kita dari keterjerembaban ke titik terendah dari kehidupan alias kondisi faqir.
diunggah ulang dari:
http://forumm.wgaul.com/printthread.php?t=22423&pp=15&page=2
Tanah tanpa tanaman itu omong kosong, tahayul atau klenik. Manusia yang tidak mengakarkan dan menumbuhkan tanaman di atas tanah, akan hanya menjadi manusia hutan belantara yang hidupnya bergantung pada tanaman sunnah (tradisi penciptaan) Allah.
Hidupnya sudah produktif, tidak kreatif, tidak inovatif, dan itu artinya tidak setia kepada daya kerja dan kewajiban menggerakkan kehidupan yang berasal dari Allah.
Tanaman yang ditumbuhkan hanya di pot atau tabung yang memisahkan hubungannya dengan syariat bumi, alias hanya mengeksploitir bumi itu dengan hanya mengambil beberapa jumput tanah untuk ditaruh untuk ditaruh di dalam pot itu - juga tidak akan menemukan daya guna maksimal dan potensialitas alam.
Dengan batas 'kosmologi' pot itu manusia jadinya juga memutuskan hubungan dengan sumber, sehingga tidak akan tercapai pula titik tuju kehidupannya. Ia bersikap a-historis terhadap sejarah eksistensi kehidupannya, serta berlaku tidak ilmiah terhadap kenyataan dirinya.
Ia akan hanya memperoleh sukses yang palsu, kemajuan yang menjebak hari tuanya, produk yang temporer dan tidak sejati, dan akhirnya penyesalan menjelang maut.
Kita tidak ikut memperjuangkan proses kelahiran diri kita, sehingga tanggung jawab kita kepada diri kita sendiri secara alamiah cenderung kalah mendalam dibanding tanggung jawab Bapak kita atas diri kita.
Tapi karena Ibu-lah yang lebih menghayati kesengsaraan dalam melahirkan kita, maka tanggung jawab Ibu atas hidup kita lebih mendalam dibanding tanggung jawab Bapak, dan terlebih lagi dibandingkan dengan kadar tanggung jawab kita atas diri kita sendiri.
Namun demikian tanggung jawab siapapun atas diri kita tidak ada sejumput debu dibanding besarnya, agung dan setianya tanggung jawab Allah atas kehidupan kita. Karena peranNya dalam proses penciptaan dan pelahiran atas kita sama sekali jangan dibandingkan dengan peran Ibu Bapak kita.
Allah sangat konsisten, setia, mesra dan amat bertanggung jawab terhadap nafkah kita, rejeki kita, kesejahteraan kita, keselamatan dan kebahagiaan kita.
Indahnya tanggung jawab Allah itu akan sangat tampak jelas di mata ilmu kita dan kesadaran batin kita apabila pola pandang yang kita pakai dalam menilai apapun saja yang kita alami ini - berperspektif dunia akhirat, bukan hanya melalui kalkulasi dan atau berskala dunia saja atau akhirat saja.
Wirid yang kita lakukan ini berfungsi dialektis.
Pertama, ia merupakan wujud tanggung jawab kita kepada kemurahan Allah atas kehidupan kita.
Kedua, wirid itu sendiri merupakan salah satu 'perangsang' bukti tanggung jawab Allah atas hidup kita.
Semakin kita mewiridkan kekuasaan dan cintaNya di sisi kerja keras kita setiap hari, semakin Allah menunjukkan bukti tanggung jawabNya.
Sesayang-sayang Bapak dan handai tolan kepada kita, jangan pernah dipertandingkan melawan rasa sayang Allah kepada kita.
Secinta-cinta Ibu dan sanak famili kepada kita, jangan pernah dikompetisikan melawan kadar cintaNya kepada kita.
Ada perhubungan cinta segitiga, antara Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW dengan kita. Akurasi dan maksimilitas kabulnya doa kita dan suksesnya kerja keras kita, sesungguhnya minimal berbanding sejajar dengan frekwensi dan kedalam wirid kepada Allah dan RasulNya, maksimal satu wirid menjadi tujuh batang pohon barokah, di mana dari setiap pohon barokah itu terlahir seratus buah pada masing-masingnya.
Saya mengajak Anda semua pergi ke sawah lantas mencangkulnya dan menanaminya dengan kemajuan hidup dan bukannya pergi ke sawah untuk duduk bersila dan berwirid dengan harapan tanaman akan tumbuh dengan sendirinya.
Sambil bekerja keras atau disela-sela kerja keras itulah kita berwirid.
Dengan tujuan, pertama wirid itu akan merabuki tanaman kita sehingga berbuah barokah, dinamis, investatif, produktif dan menyimpan rejeki-rejeki tak terduga.
Kedua, kita sama sekali tidak mampu menjamin bahwa kita akan terus sukses, terus 'berkuasa' atau terus 'punya' ini itu. Dalam hal itu tradisi wirid akan menghindarkan kita dari keterjerembaban ke titik terendah dari kehidupan alias kondisi faqir.
diunggah ulang dari:
http://forumm.wgaul.com/printthread.php?t=22423&pp=15&page=2
RAHASIA DAPUR DAN MASAKAN IBU
Ibu adalah sahabatku yang baik. Ia tidak pernah menyuruhku untuk menemaninya di dapur. Yang diharapkan olehnya dariku yaitu; untuk selalu semangat belajar, sehingga menjadi anak yang pandai; dan aku menuruti saja perkataan ibu tanpa banyak bertanya apalagi membantah. Yang ku tahu, anak yang baik adalah anak yang patuh dan menuruti perkataan ibu. Dan aku berusaha membuktikan menjadi anak yang baik di mata ibu.
Semakin bertambahnya umur, aku pun ingin seperti ibu; khususnya dalam urusan dapur. Berawal dari pertanyaan sederhana; Mengapa ibu selalu bisa membuat masakan yang enak?; dan kenapa ibu bisa membagi waktunya dengan baik antara bekerja dan mengurusi rumah tangga; apalagi setelah ayahku sakit dan harus pensiun dari tempatnya bekerjanya, otomatis tulang punggung keluarga berada dalam gendongan ibu sendiri. Sedangkan aku dan adik-adikku masih sekolah semua. Namun, beban yang berat itu mampu disimpan rapat-rapat oleh ibu. Dimana ia menyimpan perasaan itu?, sedangkan sinar mata yang teduh selalu menghiasi hari demi hari dan tanpa sekalipun menunjukkan rasa lelah. Banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalaku, dan semakin hari semakin banyak…
Semakin aku kagum, akupun secara diam-diam mengamati aktifitas ibu ketika dirumah, seusai beliau pulang dari tempat kerjanya. Aktifitas ketika di dalam, di halaman, dan di sekitar rumah. Apa yang dikerjakannya menjadi perhatianku. Dan aku pun mulai membantu sedikit demi sedikit, walaupun ibu tak pernah memintaku untuk membantu pekerjaannya. Hingga sampai ada sesuatu yang lain ketika beliau berada di dapur. Ya, di dapur adalah tempat ia betah berlama-lama, selain di ruangan tempat khusus untuk sholat.
Setelah kupikir-pikir, betul juga; dari dapurlah aku, adik-adikku, dan orang tuaku biasa berkumpul ketika waktu makan tiba. Sambil membicarakan apa saja dalam suasa santai, atau dengan nonton teve. Aktifitas berkumpul dalam suasana santai inilah, yang menjadi pintu terbuka segala keluh kesahku, atau cerita kejadian lucu di sekolah adekku. Semua bisa di bicarakan; sehingga kami pun merasa lega, dan saling mengenal satu sama lain secara alamiah. Masakan ibu dan dapur itulah kuncinya.
Naluri belajar hal yang berhubungan dengan dapur pun semakin kuat. Ya, aku harus bisa memasak seperti ibu. Mula-mula aku Cuma menemaninya; melihat apa yang dikerjakan ibu. Kemudian memegang pisau, menyiapkan bumbu, mempelajari takarannya, dan seterusnya. Sedikit demi sedikit aku mengerti dan mampu menyuguhkan masakan yang mirip-mirip bila di bandingkan dengan masakan ibu; dari model, fariasi dan rasa masakan, sehingga tidak terasa membosankan. Bahkan kemampuan ini aku rasa semakin berkembang ketika aku belajar di jogja.
Cita-cita dari semua masakan adalah pencapaian kenikmatan rasa. Entah masakan dimodel seperti apa, dimodifikasi hingga menjadi apa, sehingga mata dan hidung tersandra untuk mencicipi; pada akhirnya rasalah yang menjadi jurinya. Memang sih, takaran rasa berbeda-beda dan selera tidak bisa diperdebatkan.
Yang menjadi alasan aku menulis catatan ini adalah: mengapa rasa masakanku di hari itu tidak sesuai dengan yang kuharapkan. Seolah pengalaman, pertimbangan rasional, dan naluri yang pernah kupelajari dari ibu menjadi hilang. Ini yang salah cara memasakku atau ada yang salah di lidahku? Atau ada faktor lain; apakah faktor itu ibu..?
Apakah ibu juga pernah mengalami yang seperti ini? Jika pernah bagaimana itu bisa terjadi, dan bagaimana cara mengatasinya?
Ibu masih banyakkah pelajaran yang belum kau sampaikan kepadaku?
Atau pelajaran yang belum mampu ku pahami darimu?
Ibu, aku ingin seperti ibu, cukup dengan masakan, mampu membuat kami semua berkumpul, tersenyum, bercerita dengan aman kepadamu. Dan tentu saja mampu menyuguhkan makanan lezat untuk kekasihku itu.
Samitalona 27.01.10
Semakin bertambahnya umur, aku pun ingin seperti ibu; khususnya dalam urusan dapur. Berawal dari pertanyaan sederhana; Mengapa ibu selalu bisa membuat masakan yang enak?; dan kenapa ibu bisa membagi waktunya dengan baik antara bekerja dan mengurusi rumah tangga; apalagi setelah ayahku sakit dan harus pensiun dari tempatnya bekerjanya, otomatis tulang punggung keluarga berada dalam gendongan ibu sendiri. Sedangkan aku dan adik-adikku masih sekolah semua. Namun, beban yang berat itu mampu disimpan rapat-rapat oleh ibu. Dimana ia menyimpan perasaan itu?, sedangkan sinar mata yang teduh selalu menghiasi hari demi hari dan tanpa sekalipun menunjukkan rasa lelah. Banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalaku, dan semakin hari semakin banyak…
Semakin aku kagum, akupun secara diam-diam mengamati aktifitas ibu ketika dirumah, seusai beliau pulang dari tempat kerjanya. Aktifitas ketika di dalam, di halaman, dan di sekitar rumah. Apa yang dikerjakannya menjadi perhatianku. Dan aku pun mulai membantu sedikit demi sedikit, walaupun ibu tak pernah memintaku untuk membantu pekerjaannya. Hingga sampai ada sesuatu yang lain ketika beliau berada di dapur. Ya, di dapur adalah tempat ia betah berlama-lama, selain di ruangan tempat khusus untuk sholat.
Setelah kupikir-pikir, betul juga; dari dapurlah aku, adik-adikku, dan orang tuaku biasa berkumpul ketika waktu makan tiba. Sambil membicarakan apa saja dalam suasa santai, atau dengan nonton teve. Aktifitas berkumpul dalam suasana santai inilah, yang menjadi pintu terbuka segala keluh kesahku, atau cerita kejadian lucu di sekolah adekku. Semua bisa di bicarakan; sehingga kami pun merasa lega, dan saling mengenal satu sama lain secara alamiah. Masakan ibu dan dapur itulah kuncinya.
Naluri belajar hal yang berhubungan dengan dapur pun semakin kuat. Ya, aku harus bisa memasak seperti ibu. Mula-mula aku Cuma menemaninya; melihat apa yang dikerjakan ibu. Kemudian memegang pisau, menyiapkan bumbu, mempelajari takarannya, dan seterusnya. Sedikit demi sedikit aku mengerti dan mampu menyuguhkan masakan yang mirip-mirip bila di bandingkan dengan masakan ibu; dari model, fariasi dan rasa masakan, sehingga tidak terasa membosankan. Bahkan kemampuan ini aku rasa semakin berkembang ketika aku belajar di jogja.
Cita-cita dari semua masakan adalah pencapaian kenikmatan rasa. Entah masakan dimodel seperti apa, dimodifikasi hingga menjadi apa, sehingga mata dan hidung tersandra untuk mencicipi; pada akhirnya rasalah yang menjadi jurinya. Memang sih, takaran rasa berbeda-beda dan selera tidak bisa diperdebatkan.
Yang menjadi alasan aku menulis catatan ini adalah: mengapa rasa masakanku di hari itu tidak sesuai dengan yang kuharapkan. Seolah pengalaman, pertimbangan rasional, dan naluri yang pernah kupelajari dari ibu menjadi hilang. Ini yang salah cara memasakku atau ada yang salah di lidahku? Atau ada faktor lain; apakah faktor itu ibu..?
Apakah ibu juga pernah mengalami yang seperti ini? Jika pernah bagaimana itu bisa terjadi, dan bagaimana cara mengatasinya?
Ibu masih banyakkah pelajaran yang belum kau sampaikan kepadaku?
Atau pelajaran yang belum mampu ku pahami darimu?
Ibu, aku ingin seperti ibu, cukup dengan masakan, mampu membuat kami semua berkumpul, tersenyum, bercerita dengan aman kepadamu. Dan tentu saja mampu menyuguhkan makanan lezat untuk kekasihku itu.
Samitalona 27.01.10
Hingga Pagi Tiba
Arjuna masih saja mengejar dewi larasati…,
padahal sembadra dan srikandi sudah menjadi istrinya.
Sementara azan subuh mulai terdengar dari pengeras suara masjid,
yang merambat melalui udara pagi hingga ke kamar kontrakan.
Pak dalang masih asyik memainkan dialog dari dalam radio.
Iringan gamelan pun tetap semarak tanpa henti.
Semakin hangatlah suasana hati.
Suasana seperti ini,
yang damai,
di selimuti dalam sisa semangat,
dengan sedikit rasa capek di badan,
sungguh nikmat untuk rebahan pun sujud.
Hmm… sedang apa kamu di sana?
Ingin ku sms saja tapi tak ada pulsa,
Maka kutunggu sms / telepon mu saja.
Bukankah kamu selalu ingin membangunkanku di setiap pagi.
Mengirimkan motivasi dan perintah-perintah suci.
Kasih, telah berlalu beberapa menit,
hp tak kunjung berbunyi
Emang, sejauh mana pelayaranmu malam ini,
Berapa kepulauan di bantalmu yang telah kau tandai.
Ataukah kali ini kau kembali melakukan illegal loging
Seperti saat aku menemani dalam tidurmu
Sroog . . . sroog . . . sroog . . .
Berapa pohon yang telah engkau gergaji
Sroog . . . sroog . . . sroog . . .
Dan tetap saja, bagianku adalah berjaga-jaga,
Jangan sampai pengawas hutan melihat
Hal yang sedang kau kerjakan
Saat malam hingga pagi tiba
Tiko, 20 juli, 2010
padahal sembadra dan srikandi sudah menjadi istrinya.
Sementara azan subuh mulai terdengar dari pengeras suara masjid,
yang merambat melalui udara pagi hingga ke kamar kontrakan.
Pak dalang masih asyik memainkan dialog dari dalam radio.
Iringan gamelan pun tetap semarak tanpa henti.
Semakin hangatlah suasana hati.
Suasana seperti ini,
yang damai,
di selimuti dalam sisa semangat,
dengan sedikit rasa capek di badan,
sungguh nikmat untuk rebahan pun sujud.
Hmm… sedang apa kamu di sana?
Ingin ku sms saja tapi tak ada pulsa,
Maka kutunggu sms / telepon mu saja.
Bukankah kamu selalu ingin membangunkanku di setiap pagi.
Mengirimkan motivasi dan perintah-perintah suci.
Kasih, telah berlalu beberapa menit,
hp tak kunjung berbunyi
Emang, sejauh mana pelayaranmu malam ini,
Berapa kepulauan di bantalmu yang telah kau tandai.
Ataukah kali ini kau kembali melakukan illegal loging
Seperti saat aku menemani dalam tidurmu
Sroog . . . sroog . . . sroog . . .
Berapa pohon yang telah engkau gergaji
Sroog . . . sroog . . . sroog . . .
Dan tetap saja, bagianku adalah berjaga-jaga,
Jangan sampai pengawas hutan melihat
Hal yang sedang kau kerjakan
Saat malam hingga pagi tiba
Tiko, 20 juli, 2010
Sapa di pagi buta
Di Semarang mungkin masih malam,
Bintang - gemintang masih bergelantungan di langit-langit, dan
Dingin udara sehangat suhu kamar,
Sehingga,
Kekasih merasa nyaman dalam lelap tidur nan panjang . . .
Jogjakarta pun tak jauh beda,
Ayam telah menyapa sahabat mereka,
Yang selalu setia menemani malam,
Dalam sunyi dan diam.
Tiko, yogya, 19 juli 2010
Bintang - gemintang masih bergelantungan di langit-langit, dan
Dingin udara sehangat suhu kamar,
Sehingga,
Kekasih merasa nyaman dalam lelap tidur nan panjang . . .
Jogjakarta pun tak jauh beda,
Ayam telah menyapa sahabat mereka,
Yang selalu setia menemani malam,
Dalam sunyi dan diam.
Tiko, yogya, 19 juli 2010
KOREKSI KASIH SAYANG IBU DAN ANAK
Secara gak sengaja ku temukan sebuah peribahasa yang berbunyi: Kasih Ibu sepanjang jalan, Kasih anak sepanjang penggalan; yang artinya disitu ditulis: kasih sayang ibu tiada terbatas, tetapi kasih sayang anak terbatas tak tetap, kadang-kadang ada dan kadang-kadang pula tidak ada. Dahiku menjadi berkerut setelah membaca kalimat itu; benarkah kita sebagai anak menerima peribahasa ini dengan serta merta dan menelannya tanpa mau mengunyahnya terlebih dahulu?
Lalu bagaimana pepatah itu sampai tercatat dalam khasanah peribahasa Indonesia. Siapakah orang yang pertama kali mengatakannya, dan dengan inspirasi serta argumen apa sehingga pepatah itu sampai terlontar dan ditulis oleh para pencatat?
Apa karena kita mempunyai lembaran-lembaran catatan dari masa lalu seperti kisah malin kundang, si umang, dan mungkin cerita-cerita lain dari daerah kalian, sehingga pepatah itu menjadi sah kelahirannya; ataukah melaui penelitian dan pengamatan yang cukup lama sehingga menangkap gejala yang kuat terhadap indikasi polah tingkah anak-anak saat itu yang memang kurang serius dalam membalas dan memberi timbal-balik atas kasih sayang dari ibunda-nya; Jika indikasi kedua itu benar adanya berarti tidak ada yang salah dalam peribahasa tersebut karena mengungkapakan sebuah kenyataan. Lalu pertanyaan berikutnya sejak kapan peribahasa itu muncul? Dan apa imbasnya? Bukankah dalam siklus yang normal seorang anak perempuan juga akan menjadi ibu, lalu akankah menjadi semacam mata rantai hutang anak kepada ibunya yang sangat panjang, Kemudian disusul oleh pertanyaan; apakah kita sebagai anak merasa bangga karena telah mewarisi dan akan meninggalkan warisan selarik peribahasa seperti itu? Dan akhirnya sebagian teman yang lain menggunakan peribahasa itu untuk menjadi pemakluman atas tingkah lakunya kepada ibunya, atau jangan-jangan pepatah itu ditujukan lebih spesifik kepada laki-laki? Kemudian untuk bapak-bapak-pun ikutan protes karena cemburu tidak di sebut serta dalam peribahasa tersebut? Belum lagi pertanyaan yang nanti keluar dari seorang ibu, yang yang pernah menceritakan kisah hidupnya ketika ibunya meninggal saat usianya belum genap tujuh tahun, ia tak ingat dan tak ada rekaman pribadi kecuali transformasi kasih sayang ibu yang dititipkan melalui kakak-kakaknya yang berjumlah tujuh dan ia menjadi lebih beruntung lagi karena masih ada catatan silsilah keluarga ibu yang jelas, yang membantu sedikit banyak mengenali siapa ibunya sebenarnya.
Beberapa hari yang lalu, aku mendengar dan melihat kabar berita lewat televisi tentang seorang ibu yang tega menjual anaknya seharga satu setengah juta rupiah. Uang hasil penjualan bayi itu digunakan mengganti hand phone milik tetangganya yang ketahuan telah ia curi sebab hp tadi teranjur dijualnya ke sebuah counter. Beberapa minggu sebelumya adekku “keceplosan” cerita tentang kawan kos-nya yang nekad melakukan aborsi terhadap janin dalam kandungannya karena ia belum menikah dan masih tercatat aktif kuliah di semester 5. Dan dalam beberapa hari ini semakin terkuak koreng kita lewat maraknya berita penjualan anak, aborsi, ibu yang tega meninggalkan anaknya yang baru dilahirkan di kebun, pos ronda maupun di tempat sampah. Kenyataan itu sungguh seharusnya membuat miris bagi siapa saja yang bersedia membuka mata dan telinganya. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas itu semua? Kita tidak bisa serta merta menyalahkan ibu itu, kita harus lebih arif melihat persoalan ini. Karena latar belakang perempuan ketika melakukan aborsi bisa berbeda-beda dan penanganannya pasti juga berbeda. Dan catatan kecil ini memang tidak ditujukan untuk lebih jauh mengupas itu. Mungkin kawan2 yang akan gantian mengerutkan dahi, karena masalah aborsi, penjualan anak ini lebih serius dan esensial di banding ngomongin sebaris peribahasa yang cenderung provokablur. Yah siapa tau dari temen-temen ada yang mulai berbagi bunga pikiran, pengetahuan, serta ilmu tentang hal itu nantinya.
Sedikit mengengok kebelakang
Melihat kenyataan di depan mata seperti itu, bukankah peribahasa tadi harus dirombak, di revisi jika azas yang digunkan dalam memunculkan sebuah peribahasa adalah potret kenyataan. Dan jika kita jujur kira-kira bisa seperti ini bunyinya: Kasih Ibu semakin terpenggal, lha dititipi anak malah di buang;
atau Kasih ibu telah hilang di jalan, Kasih Ibu terjengkang-jengkang, dst. tetapi bukankah peribahasa itu nantinya akan menjadikan semakin runyam dan tidak terjadi penyelesaian yang indah?
Bagi Bapak bolehlah GeeR untuk dapat belajar mencintai, mengasihi dengan luar biasa besar kepada anak-anaknya, berkacalah kepada Ayyub AS. sehingga kwalitas dan keyakinan cintanya kepada anak-anaknya terlebih kepada Yusuf AS. mampu menyembuhkan kebutaan, sakit dan uzur karena usia, padahal baru mencium bau keringat anaknya lewat sebuah baju yang diselipkan dalam bungkusan.
Untuk para Ibu tak perlu dibahas, karena sudah jelas para ibu-lah yang memperoleh hak istimewa itu karena titipan rahim ada dalam perutnya. Ketika dalam wujud pertemuan air mani dan sel telur, gumpalan daging, dan seterusnya hingga waktu yang ditentukan untuk lahir, dalam prose situ jabang bayi selalu merekam kondisi pikiran, perasaan, makanan dari ibu yang mengandungnya, mungkin karena itu naluri ibu lebih cakap dan peka dalam mengasuh dan melindungi dan anaknya.
Sebetulnya ada referensi menarik sebuah kaca benggala dari kisah Maryam ibu nabi Isa AS. bagaimana ia rela menjauh dari keramaian masyarakat demi memutuskan tetap amannya sebuah kelahiran anak yang tidak mempunyai ayah. Ada juga ibunda nabi Musa AS. yang memutuskan menghanyutkan anaknya di sungai demi menghindari kebengisan Fir’aun yang melakukan pembantaian besar-besaran terhadap anak laki-laki karena menerima bisikan dari dukunnya kalau telah lahir bayi yang akan menjatuhkan kedudukannya kelak. Tetapi karena ke Maha Besaran Tuhan, Musa kecil diskenario hingga ditemukan istri Fir’aun dan dibesarkan melalui istana, sampai mengerti siapa sebenarnya dirinya. Berkaca dari peristiwa itu, sungguh ironis jika dibandingkan dengan jaman sekarang. Dahulu seorang ibu, rela “membuang” anaknya dengan harapan sang anak dapat selamat, sekarang ratusan mungkin ribuan dan mungkin juga tak terhitung lagi kejadian seorang ibu membuang, bahkan membunuh bayi dan anaknya demi alasan kehidupan ibunya sendiri. Bahkan menggunakan dalih kesulitan ekonomi.
Hah, beralasan dengan dalih ekononi, geleng-geleng-geleng… membaca kenyataan itu, jangan naik pitam dong, terus mengatakan: Hai pemerintah apa kabar? Dari sisi pemenuhan kebutuhan ekonomi bagi rakyat, sepertinya engkau lebih kejam dari Fir’aun. Sehingga mereka sampai hati memenggal sendiri leher anak mereka, sebelum engkau perintahkan. Hai pemerintah, bukankah di sini gudang segala kekayaan? Ah, sudahlah, Kasihani mereka, nanganin satu-dua orang yang terlibat kasus century aja blibetnya bukan maen, padahal sudah di demo dari ribuan saudara kita di sana-sini, masa terus kita paksa todong ngurusi ribuan orang kelaparan di negri ini… ah mimpi kali yee…
Version of Indonesianian
Tapi mungkin benar juga, jika kasih sayang ibu-ibu kita begitu besarnya. Ini kan Indonesia, negeri yang penuh kasih sayang dan cinta antar anggota keluarga. Nilai-nilai kekeluargaan masih dijunjung begitu tingginya. sehingga sampai-sampai aku temui ibu-ibu bekerja di terik matahari sebagai buruh kasar dalam proyek pembuatan perumnas. Jam dua dini hari adalah jadwal ibu-ibu yang sudah sangat berumur, mengayuh sepedanya dari desa yang pelosok- waktu sebagian besar orang tenggelam dalam hangatnya kasur empuk, mereka turun gunung menuju pasar kota dengan membawa sedikit hasil kebun dan sayur yang dipetiknya dari pekarangan rumah dan petakan sawah kecil miliknya. Dan ketika selepas isyak masih akan kau temukan sesekali seorang dua orang ibu yang masih setia mangkal atau dijalanan kota jogja mencari seseorang yang membutuhkan jasa antar-jemput mengunakan ojek atau motor taxi-nya, bahkan kalau kamu suka menyusuri lorong-lorong di sonoh, masih ada juga ibu-ibu yang terpaksa bergadang sampe subuh menjajakan tubuhnya untuk “di ojek” demi menghidupi kebutuhan keluarganya. Bisa di bayangkan betapa kuatnya mereka, belum setelah itu menyelesaikan pekerjaan dirumah masing-masing. Dan bisa dibayangkan betapa kesalnya kita, kalau tahu, anak-anak mereka tidak serius dalam memaknai perjuangan orang tuanya. Bahkan rasanya pengen njitak anak-anak itu kalo tahunya mereka hanya merengek dan minta dituruti segala mau-nya.
Ini Indonesia dek, mari kita tengok lagi lebih jauh, masih adakah di lingkungan RT kita, seseorang yang sudah berkeluarga, sudah punya anak, tetapi hidupnya masih ditopang sama orang tuanya, syukur orang tuanya masih mampu, dan masih ada juga orang tua yang enggan menyapih anaknya walaupun sudah seperti itu.
Pernah aku iseng-iseng bertanya kepada orang tua yang seperti itu, jawabannya ada saja, ada yang bilang kasihan, masih jadi kewajiban, orang tua enggan jauh dengan anak, orang tua kerja kalau bukan untuk anak untuk siapa lagi, dll. begitulah yang sering kujumpai. Wajar saja terlahir peribahasa ;Kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan- di Indonesia; lha kultur dan psikologi masyarakat seperti itu.
Peribahasa tadi jika hanya dimaknai sebagai potret dari kultur dan psikologi masyarakat sepertinya kurang tepat dan menjadi bias maknanya. Di jawa khususnya diajarkan banyak sekali tata krama, atau lebih dikenal sebagai unggah-ungguh. Orang yang lebih tua harus lebih dihormati, sehingga lahirlah khasanah bahasa yang bertingkat. Ada Ngoko, Kromo Madyo, Kromo Inggil dengan spesifikasi penggunaan sendiri-sendiri. Merendahkan diri dihadapan orang lain itu biasa, apa lagi dihadapan orang tua. Orang jawa bilang; iso kuwalat nek wani-wani karo wong tuwo. Dan seringkali ilmu merunduk, membungkuk itu digunakan untuk memudahkan mengambil keris, senjata orang jawa yang disimpan di pinggang belakang. Sehingga ketika anak ingin meminta sesuatu cukup dengan ngisik-isik sikil orang tuanya, sehingga terkabullah apa yang menjadi niat dan keinginannya.
Atau sebaliknya, pribahasa tersebut bisa menjadi bumerang bagi mereka yang GeeR apalagi sampai menyebar kedalam ranah kehidupan sosial yang lain seperti pemahaman orang lebih tua selalu lebih unggul dibanding yang lebih muda umurnya, orang tua selalu benar, Pemerintah sebagai ibu selalu melakukan keputusan terbaik dan salah rakyat sebagai anaklah yang selalu tak puas dan tak tahu terimakasih. Dosen selalu benar dan mahasiswa tempatnya keliru, penceramah lebih mulia dari orang yang di ceramahi, dst.
Hak cinta anak dan orang tua?
Setelah berbicara sedikit panjang lebar, untuk menghindari semakin bias makna antara orang tua dengan anak; dalam mengolah peribahasa bolehlah sedikit kita utak-atik, supaya lebih luas, lebih fair dan semoga menjadi lebih adil dari sebaris peribahasa. “Kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan”, kemungkinan menggunakan jarak pandang yang begitu pendek, semangatnya di dunia saja atau sampai sebatas usia hidup di dunia. Mari kita coba melihatnya pakai khasanah dari Islam, yang menggunakan jarak pandang dunia dan akhirat; Rasullulloh pernah bersabda: Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga macam, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dapat diambil manfaatnya, atau anak sholeh yang mau mendoakannya.
Disana dikatakan anak sholeh yang mau mendoakan orang tua, walaupun mereka sudah meninggal dunia masih di hitung sebagai amal untuk orang tua. Bukankah itu sebuah kalimat arif bagi orang tua sekaligus bagi anak. Yaitu sebagai alasan bagi orang tua untuk selalu berusaha mendidik anaknya menjadi sholeh sehingga kelak menjadi infestasi setelah dirinya meninggal, kemudian bagi anak merupakan dalil untuk selalu dapat membalas kasih sayang kepada orang tuanya walaupun orang tuanya telah meninggal dunia. Jika kita kembali kepada peribahasa Kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan; bukankah lebih baik kita koreksi menjadi: Kasih ibu tak putus sepanjang jalan, Kasih anak tak habis sepanjang hayat. Yang artinya kasih sayang itu tak terputus oleh lintasan ruang - waktu, sehingga tak ada batasan bagi anak dalam berbakti kepada ibu karena kasih sayang ibu selalu melekat di hati. Dan tentu saja itu termasuk persembahan cinta bagi saudara kita yang menjadi yatim sejak kecil.
Samitalona, Jagan, 22-02-2010
Lalu bagaimana pepatah itu sampai tercatat dalam khasanah peribahasa Indonesia. Siapakah orang yang pertama kali mengatakannya, dan dengan inspirasi serta argumen apa sehingga pepatah itu sampai terlontar dan ditulis oleh para pencatat?
Apa karena kita mempunyai lembaran-lembaran catatan dari masa lalu seperti kisah malin kundang, si umang, dan mungkin cerita-cerita lain dari daerah kalian, sehingga pepatah itu menjadi sah kelahirannya; ataukah melaui penelitian dan pengamatan yang cukup lama sehingga menangkap gejala yang kuat terhadap indikasi polah tingkah anak-anak saat itu yang memang kurang serius dalam membalas dan memberi timbal-balik atas kasih sayang dari ibunda-nya; Jika indikasi kedua itu benar adanya berarti tidak ada yang salah dalam peribahasa tersebut karena mengungkapakan sebuah kenyataan. Lalu pertanyaan berikutnya sejak kapan peribahasa itu muncul? Dan apa imbasnya? Bukankah dalam siklus yang normal seorang anak perempuan juga akan menjadi ibu, lalu akankah menjadi semacam mata rantai hutang anak kepada ibunya yang sangat panjang, Kemudian disusul oleh pertanyaan; apakah kita sebagai anak merasa bangga karena telah mewarisi dan akan meninggalkan warisan selarik peribahasa seperti itu? Dan akhirnya sebagian teman yang lain menggunakan peribahasa itu untuk menjadi pemakluman atas tingkah lakunya kepada ibunya, atau jangan-jangan pepatah itu ditujukan lebih spesifik kepada laki-laki? Kemudian untuk bapak-bapak-pun ikutan protes karena cemburu tidak di sebut serta dalam peribahasa tersebut? Belum lagi pertanyaan yang nanti keluar dari seorang ibu, yang yang pernah menceritakan kisah hidupnya ketika ibunya meninggal saat usianya belum genap tujuh tahun, ia tak ingat dan tak ada rekaman pribadi kecuali transformasi kasih sayang ibu yang dititipkan melalui kakak-kakaknya yang berjumlah tujuh dan ia menjadi lebih beruntung lagi karena masih ada catatan silsilah keluarga ibu yang jelas, yang membantu sedikit banyak mengenali siapa ibunya sebenarnya.
Beberapa hari yang lalu, aku mendengar dan melihat kabar berita lewat televisi tentang seorang ibu yang tega menjual anaknya seharga satu setengah juta rupiah. Uang hasil penjualan bayi itu digunakan mengganti hand phone milik tetangganya yang ketahuan telah ia curi sebab hp tadi teranjur dijualnya ke sebuah counter. Beberapa minggu sebelumya adekku “keceplosan” cerita tentang kawan kos-nya yang nekad melakukan aborsi terhadap janin dalam kandungannya karena ia belum menikah dan masih tercatat aktif kuliah di semester 5. Dan dalam beberapa hari ini semakin terkuak koreng kita lewat maraknya berita penjualan anak, aborsi, ibu yang tega meninggalkan anaknya yang baru dilahirkan di kebun, pos ronda maupun di tempat sampah. Kenyataan itu sungguh seharusnya membuat miris bagi siapa saja yang bersedia membuka mata dan telinganya. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas itu semua? Kita tidak bisa serta merta menyalahkan ibu itu, kita harus lebih arif melihat persoalan ini. Karena latar belakang perempuan ketika melakukan aborsi bisa berbeda-beda dan penanganannya pasti juga berbeda. Dan catatan kecil ini memang tidak ditujukan untuk lebih jauh mengupas itu. Mungkin kawan2 yang akan gantian mengerutkan dahi, karena masalah aborsi, penjualan anak ini lebih serius dan esensial di banding ngomongin sebaris peribahasa yang cenderung provokablur. Yah siapa tau dari temen-temen ada yang mulai berbagi bunga pikiran, pengetahuan, serta ilmu tentang hal itu nantinya.
Sedikit mengengok kebelakang
Melihat kenyataan di depan mata seperti itu, bukankah peribahasa tadi harus dirombak, di revisi jika azas yang digunkan dalam memunculkan sebuah peribahasa adalah potret kenyataan. Dan jika kita jujur kira-kira bisa seperti ini bunyinya: Kasih Ibu semakin terpenggal, lha dititipi anak malah di buang;
atau Kasih ibu telah hilang di jalan, Kasih Ibu terjengkang-jengkang, dst. tetapi bukankah peribahasa itu nantinya akan menjadikan semakin runyam dan tidak terjadi penyelesaian yang indah?
Bagi Bapak bolehlah GeeR untuk dapat belajar mencintai, mengasihi dengan luar biasa besar kepada anak-anaknya, berkacalah kepada Ayyub AS. sehingga kwalitas dan keyakinan cintanya kepada anak-anaknya terlebih kepada Yusuf AS. mampu menyembuhkan kebutaan, sakit dan uzur karena usia, padahal baru mencium bau keringat anaknya lewat sebuah baju yang diselipkan dalam bungkusan.
Untuk para Ibu tak perlu dibahas, karena sudah jelas para ibu-lah yang memperoleh hak istimewa itu karena titipan rahim ada dalam perutnya. Ketika dalam wujud pertemuan air mani dan sel telur, gumpalan daging, dan seterusnya hingga waktu yang ditentukan untuk lahir, dalam prose situ jabang bayi selalu merekam kondisi pikiran, perasaan, makanan dari ibu yang mengandungnya, mungkin karena itu naluri ibu lebih cakap dan peka dalam mengasuh dan melindungi dan anaknya.
Sebetulnya ada referensi menarik sebuah kaca benggala dari kisah Maryam ibu nabi Isa AS. bagaimana ia rela menjauh dari keramaian masyarakat demi memutuskan tetap amannya sebuah kelahiran anak yang tidak mempunyai ayah. Ada juga ibunda nabi Musa AS. yang memutuskan menghanyutkan anaknya di sungai demi menghindari kebengisan Fir’aun yang melakukan pembantaian besar-besaran terhadap anak laki-laki karena menerima bisikan dari dukunnya kalau telah lahir bayi yang akan menjatuhkan kedudukannya kelak. Tetapi karena ke Maha Besaran Tuhan, Musa kecil diskenario hingga ditemukan istri Fir’aun dan dibesarkan melalui istana, sampai mengerti siapa sebenarnya dirinya. Berkaca dari peristiwa itu, sungguh ironis jika dibandingkan dengan jaman sekarang. Dahulu seorang ibu, rela “membuang” anaknya dengan harapan sang anak dapat selamat, sekarang ratusan mungkin ribuan dan mungkin juga tak terhitung lagi kejadian seorang ibu membuang, bahkan membunuh bayi dan anaknya demi alasan kehidupan ibunya sendiri. Bahkan menggunakan dalih kesulitan ekonomi.
Hah, beralasan dengan dalih ekononi, geleng-geleng-geleng… membaca kenyataan itu, jangan naik pitam dong, terus mengatakan: Hai pemerintah apa kabar? Dari sisi pemenuhan kebutuhan ekonomi bagi rakyat, sepertinya engkau lebih kejam dari Fir’aun. Sehingga mereka sampai hati memenggal sendiri leher anak mereka, sebelum engkau perintahkan. Hai pemerintah, bukankah di sini gudang segala kekayaan? Ah, sudahlah, Kasihani mereka, nanganin satu-dua orang yang terlibat kasus century aja blibetnya bukan maen, padahal sudah di demo dari ribuan saudara kita di sana-sini, masa terus kita paksa todong ngurusi ribuan orang kelaparan di negri ini… ah mimpi kali yee…
Version of Indonesianian
Tapi mungkin benar juga, jika kasih sayang ibu-ibu kita begitu besarnya. Ini kan Indonesia, negeri yang penuh kasih sayang dan cinta antar anggota keluarga. Nilai-nilai kekeluargaan masih dijunjung begitu tingginya. sehingga sampai-sampai aku temui ibu-ibu bekerja di terik matahari sebagai buruh kasar dalam proyek pembuatan perumnas. Jam dua dini hari adalah jadwal ibu-ibu yang sudah sangat berumur, mengayuh sepedanya dari desa yang pelosok- waktu sebagian besar orang tenggelam dalam hangatnya kasur empuk, mereka turun gunung menuju pasar kota dengan membawa sedikit hasil kebun dan sayur yang dipetiknya dari pekarangan rumah dan petakan sawah kecil miliknya. Dan ketika selepas isyak masih akan kau temukan sesekali seorang dua orang ibu yang masih setia mangkal atau dijalanan kota jogja mencari seseorang yang membutuhkan jasa antar-jemput mengunakan ojek atau motor taxi-nya, bahkan kalau kamu suka menyusuri lorong-lorong di sonoh, masih ada juga ibu-ibu yang terpaksa bergadang sampe subuh menjajakan tubuhnya untuk “di ojek” demi menghidupi kebutuhan keluarganya. Bisa di bayangkan betapa kuatnya mereka, belum setelah itu menyelesaikan pekerjaan dirumah masing-masing. Dan bisa dibayangkan betapa kesalnya kita, kalau tahu, anak-anak mereka tidak serius dalam memaknai perjuangan orang tuanya. Bahkan rasanya pengen njitak anak-anak itu kalo tahunya mereka hanya merengek dan minta dituruti segala mau-nya.
Ini Indonesia dek, mari kita tengok lagi lebih jauh, masih adakah di lingkungan RT kita, seseorang yang sudah berkeluarga, sudah punya anak, tetapi hidupnya masih ditopang sama orang tuanya, syukur orang tuanya masih mampu, dan masih ada juga orang tua yang enggan menyapih anaknya walaupun sudah seperti itu.
Pernah aku iseng-iseng bertanya kepada orang tua yang seperti itu, jawabannya ada saja, ada yang bilang kasihan, masih jadi kewajiban, orang tua enggan jauh dengan anak, orang tua kerja kalau bukan untuk anak untuk siapa lagi, dll. begitulah yang sering kujumpai. Wajar saja terlahir peribahasa ;Kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan- di Indonesia; lha kultur dan psikologi masyarakat seperti itu.
Peribahasa tadi jika hanya dimaknai sebagai potret dari kultur dan psikologi masyarakat sepertinya kurang tepat dan menjadi bias maknanya. Di jawa khususnya diajarkan banyak sekali tata krama, atau lebih dikenal sebagai unggah-ungguh. Orang yang lebih tua harus lebih dihormati, sehingga lahirlah khasanah bahasa yang bertingkat. Ada Ngoko, Kromo Madyo, Kromo Inggil dengan spesifikasi penggunaan sendiri-sendiri. Merendahkan diri dihadapan orang lain itu biasa, apa lagi dihadapan orang tua. Orang jawa bilang; iso kuwalat nek wani-wani karo wong tuwo. Dan seringkali ilmu merunduk, membungkuk itu digunakan untuk memudahkan mengambil keris, senjata orang jawa yang disimpan di pinggang belakang. Sehingga ketika anak ingin meminta sesuatu cukup dengan ngisik-isik sikil orang tuanya, sehingga terkabullah apa yang menjadi niat dan keinginannya.
Atau sebaliknya, pribahasa tersebut bisa menjadi bumerang bagi mereka yang GeeR apalagi sampai menyebar kedalam ranah kehidupan sosial yang lain seperti pemahaman orang lebih tua selalu lebih unggul dibanding yang lebih muda umurnya, orang tua selalu benar, Pemerintah sebagai ibu selalu melakukan keputusan terbaik dan salah rakyat sebagai anaklah yang selalu tak puas dan tak tahu terimakasih. Dosen selalu benar dan mahasiswa tempatnya keliru, penceramah lebih mulia dari orang yang di ceramahi, dst.
Hak cinta anak dan orang tua?
Setelah berbicara sedikit panjang lebar, untuk menghindari semakin bias makna antara orang tua dengan anak; dalam mengolah peribahasa bolehlah sedikit kita utak-atik, supaya lebih luas, lebih fair dan semoga menjadi lebih adil dari sebaris peribahasa. “Kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan”, kemungkinan menggunakan jarak pandang yang begitu pendek, semangatnya di dunia saja atau sampai sebatas usia hidup di dunia. Mari kita coba melihatnya pakai khasanah dari Islam, yang menggunakan jarak pandang dunia dan akhirat; Rasullulloh pernah bersabda: Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga macam, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dapat diambil manfaatnya, atau anak sholeh yang mau mendoakannya.
Disana dikatakan anak sholeh yang mau mendoakan orang tua, walaupun mereka sudah meninggal dunia masih di hitung sebagai amal untuk orang tua. Bukankah itu sebuah kalimat arif bagi orang tua sekaligus bagi anak. Yaitu sebagai alasan bagi orang tua untuk selalu berusaha mendidik anaknya menjadi sholeh sehingga kelak menjadi infestasi setelah dirinya meninggal, kemudian bagi anak merupakan dalil untuk selalu dapat membalas kasih sayang kepada orang tuanya walaupun orang tuanya telah meninggal dunia. Jika kita kembali kepada peribahasa Kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan; bukankah lebih baik kita koreksi menjadi: Kasih ibu tak putus sepanjang jalan, Kasih anak tak habis sepanjang hayat. Yang artinya kasih sayang itu tak terputus oleh lintasan ruang - waktu, sehingga tak ada batasan bagi anak dalam berbakti kepada ibu karena kasih sayang ibu selalu melekat di hati. Dan tentu saja itu termasuk persembahan cinta bagi saudara kita yang menjadi yatim sejak kecil.
Samitalona, Jagan, 22-02-2010
DILEMPAR BATU
Kadang ku dilempari batu. Entah oleh siapa dan dari mana. Kusangka dari arah semak-semak di kiri dan kananku yang begitu rungkut. Atau dari atas pohon-pohon besar di depan sana atau di belakang tadi, tapi aku tak ambil peduli, aku terus berjalan.
Setelah sampai di jalan panjang itu, kulihat rumah besar, megah dengan halaman luas. Limapuluh macam bunga ditanam disana. Taman dan air mancur dan sebuah kolam yang penuh dengan ikan koi ada disana. Beberapa karya instalasi dan patung menambah semarak suasana.
Kadang aku mendapati rumah itu sangat ramai karena orang-orang berdatangan kesana. Biasanya hal tersebut terjadi 2-3 kali dalam sebulan. Disana berlangsung acara yang meriah dengan orkes dan gambus dengan biduan yang aduhai bahenolnya, dengan setelan celana pendek hampir ke pangkal paha dan baju ketat menggoyang mereka yang ada di sana. Kadang juga musik-musik cadas menderu dan meraung menghentak jantungku walaupun aku hanya sekedar lewat disana, di jalan depan rumah besar itu. Kata mereka di dalam gedung tersebut dipajang lukisan-lukisan yang besar, besar ukurannya, besar pelukisnya, dan besar-besar yang lain.
Pernah aku sesekali berhenti dan menyapa beberapa orang disana, mereka sangat ranah dan bersahabat. Padahal aku belum belum pernah bertemu mereka, tetapi mereka memperlakukanku seperti sahabat dekat, penuh kasih sayang. Mereka mengajakku ke dalam, tetapi aku menolaknya dengan halus. Aku takut sebenarnya takut dan malu, takut tidak bias membalas kebaikan mereka dan malu jika mengotori lantai dan kursi dan mejanya. Akupun mengucapkan terimakasih, dan berharap bertemu dengan kebaikan seperti yang ditunjukkan mereka di perjalananku selanjutnya. Tidak lupa aku jabat tangan mereka dengan mesra dan untaian kata mutiara salam kuberikan. Dan akupun kembali melangkahkan kaki, baru beberapa langkah seperti yang sudah-sudah beberapa batu menimpuk tubuh dan kepalaku entah dari mana dan siapa.
Kanjeng nabi, ketika engkau dilempari batu tidak pernah engkau marah dan membalasnya, bahkan engkau mendoakan untuk kebaikan mereka. Oleh karena itu, untuk menguatkan dan menghibur diriku, ijinkan aku untuk berjalan di belakangmu.
Tiko, feb,2009
Setelah sampai di jalan panjang itu, kulihat rumah besar, megah dengan halaman luas. Limapuluh macam bunga ditanam disana. Taman dan air mancur dan sebuah kolam yang penuh dengan ikan koi ada disana. Beberapa karya instalasi dan patung menambah semarak suasana.
Kadang aku mendapati rumah itu sangat ramai karena orang-orang berdatangan kesana. Biasanya hal tersebut terjadi 2-3 kali dalam sebulan. Disana berlangsung acara yang meriah dengan orkes dan gambus dengan biduan yang aduhai bahenolnya, dengan setelan celana pendek hampir ke pangkal paha dan baju ketat menggoyang mereka yang ada di sana. Kadang juga musik-musik cadas menderu dan meraung menghentak jantungku walaupun aku hanya sekedar lewat disana, di jalan depan rumah besar itu. Kata mereka di dalam gedung tersebut dipajang lukisan-lukisan yang besar, besar ukurannya, besar pelukisnya, dan besar-besar yang lain.
Pernah aku sesekali berhenti dan menyapa beberapa orang disana, mereka sangat ranah dan bersahabat. Padahal aku belum belum pernah bertemu mereka, tetapi mereka memperlakukanku seperti sahabat dekat, penuh kasih sayang. Mereka mengajakku ke dalam, tetapi aku menolaknya dengan halus. Aku takut sebenarnya takut dan malu, takut tidak bias membalas kebaikan mereka dan malu jika mengotori lantai dan kursi dan mejanya. Akupun mengucapkan terimakasih, dan berharap bertemu dengan kebaikan seperti yang ditunjukkan mereka di perjalananku selanjutnya. Tidak lupa aku jabat tangan mereka dengan mesra dan untaian kata mutiara salam kuberikan. Dan akupun kembali melangkahkan kaki, baru beberapa langkah seperti yang sudah-sudah beberapa batu menimpuk tubuh dan kepalaku entah dari mana dan siapa.
Kanjeng nabi, ketika engkau dilempari batu tidak pernah engkau marah dan membalasnya, bahkan engkau mendoakan untuk kebaikan mereka. Oleh karena itu, untuk menguatkan dan menghibur diriku, ijinkan aku untuk berjalan di belakangmu.
Tiko, feb,2009
TERLAMBAT TERBIT
Bolehlah kau terangkan ini itu
Kau tunjukkan langkah efektif
Analisa masalah, kemungkinan solusi
Hingga trik-tip menghadapinya
Oke, aku sediakan kuping untuk mulutmu
Ku gelar jiwa samudra untuk badai cita-citamu
Dan sekotak penghapus serta tipexJ
ikalau kau salah menuliskan untukku
Lho, apa-apa an ini kok jadi lesu!?
Jadi apa yag harus kutulis hari ini?
Akibat suplemen kadaluarsa?
Atau maaf, …putus asa?
Bualan teori kadang perlu
Tamparan pun perlu
Tapi yang belum terlihat dipagi ini
Terbitnya matahari dari jiwamu
Tiko, April 2009
Kau tunjukkan langkah efektif
Analisa masalah, kemungkinan solusi
Hingga trik-tip menghadapinya
Oke, aku sediakan kuping untuk mulutmu
Ku gelar jiwa samudra untuk badai cita-citamu
Dan sekotak penghapus serta tipexJ
ikalau kau salah menuliskan untukku
Lho, apa-apa an ini kok jadi lesu!?
Jadi apa yag harus kutulis hari ini?
Akibat suplemen kadaluarsa?
Atau maaf, …putus asa?
Bualan teori kadang perlu
Tamparan pun perlu
Tapi yang belum terlihat dipagi ini
Terbitnya matahari dari jiwamu
Tiko, April 2009
Wilcimo Widodoro
Bulan ini aku sangat gembira, pasalnya ada teman yang bersedia menyumbangkan karya2nya untuk turut bergembira bersama menanam bunga, dan bermain air (keceh) yang tanggapan dalam sms nya: “Wijik neng kolam? Wah ojo, kapiken, wijik ning kalen wae karo dolanan jangkrik hehehe…” (cuci kaki di kolam? Wah jangan, itu terlalu bagus, cuci kaki di sungai saja sambil bermain jangkrik hehehe..) Begitulah cerianya sahabatku, sahabat baru yang terasa lama yang ketemu di kampus Hastina Wiyata (istilahnya Pak Arif Pandu Putra bagi kampus UST). Namanya Agnes Sri Paulina, yang besok tanggal 25 April 2009 wisuda S-1 di Universitas Sanata Dharma. Saya ucapkan salamat atas keberhasilan menempuh jenjang studimu itu, semoga gelar sarjana yang kau raih tetap bersekala universal, bukan mengecil menjadi fakultatif. Wujudkan cita-citamu yang belum tercapai. Begitu juga selamat datang di kolam ini. Dari jauh kiai kodok ijo tersenyum padamu. Wilcimo widodoro.
Hadirmu memberikan harapan kepada datangnya teman-teman yang lain, para kesatria pacul emas, petani dari jawa, segeralah kembali untuk mengolah tanah yang diwariskan kepadamu. Bukankah gurumu sudah memberikan bibit tanaman itu, kenapa tak kunjung engkau tanan di bumi pertiwi ini. Walaupun engkau tak membaca tulisan ini, semoga kembali teringat tugas itu lagi.
Tiko, april. 2009
Hadirmu memberikan harapan kepada datangnya teman-teman yang lain, para kesatria pacul emas, petani dari jawa, segeralah kembali untuk mengolah tanah yang diwariskan kepadamu. Bukankah gurumu sudah memberikan bibit tanaman itu, kenapa tak kunjung engkau tanan di bumi pertiwi ini. Walaupun engkau tak membaca tulisan ini, semoga kembali teringat tugas itu lagi.
Tiko, april. 2009
Teringat Indah
Siang kala itu terik sekali, di pertengahan bulan febuari 2009 aku melajukan motor ke kontrakan Jagan.
Sebelum benar sampai rumah, rintik hujan menyerang bumi
turun dengan derasnya, sungguh dengan tiba-tiba.
Niatku untuk menjemur anganku, harapanku, impianku sirna.
Cahaya matahari itu tidak menjatuhkan pilihannya untukku.
Aku siang itu kembali teringat kepadamu.
Kecantikanmu, kebaikanmu, keindahanmu yang dulu selalu kurindu
masih kutaruh di jemuran hatiku.
Kutepikan di sana, biar panas, biar hujan, biarlah tetap disana,
karena panasmu- hujanmu belum kutemukan gantinya.
Cintaku terlatih untuk menerima tamparan-tamparan itu
Dan pasti bukan tubuhmu, wajahmu yang masih menyeretku kesana.
Kekagumanku akan kugenggam erat dari engkau pesona
Untuk kembali belajar melihat dengan jernih
Kepada kejernihan arti hadirmu.
Tiko, feb.2009
Sebelum benar sampai rumah, rintik hujan menyerang bumi
turun dengan derasnya, sungguh dengan tiba-tiba.
Niatku untuk menjemur anganku, harapanku, impianku sirna.
Cahaya matahari itu tidak menjatuhkan pilihannya untukku.
Aku siang itu kembali teringat kepadamu.
Kecantikanmu, kebaikanmu, keindahanmu yang dulu selalu kurindu
masih kutaruh di jemuran hatiku.
Kutepikan di sana, biar panas, biar hujan, biarlah tetap disana,
karena panasmu- hujanmu belum kutemukan gantinya.
Cintaku terlatih untuk menerima tamparan-tamparan itu
Dan pasti bukan tubuhmu, wajahmu yang masih menyeretku kesana.
Kekagumanku akan kugenggam erat dari engkau pesona
Untuk kembali belajar melihat dengan jernih
Kepada kejernihan arti hadirmu.
Tiko, feb.2009
Engkau Diam 9002 arti
Ada yang sengaja diam agar didekati,
dan ada yang tak mau didekati karenanya diam.
Ada yang malu-malu karena ia ingin tahu,
Ada yang gak tahu karenanya jadi malu.
Maka tunjukkan kekeliruanku
Untuk membantu lebih sayang padamu.
Tiko, april 2009
Ataukah malu dengan muka sendiri??
Terlalu banyak kami berdusta
Terlalu sering kami berpaling
Kamipun berpura menyamar
Dalam kebodohan, melata seperti binatang
Mata kami lirikkan kanan-kiri
Kelangit maupun bumi
Oh betapa bodohnya kami…
Kami malu, malu dan malu
Bagaimana mungkin kami bersembunyi
Bagaimana mungkin kami menyamar,
Kami sadar tak bisa lagi sembunyi
Tak mungkin lagi menyamar
Yang pasti kami sangat malu
Menatap diri sendiri
Mungkinkah kami mampu
Menatap wajahmu
Ampuni kami…
Tiko, 2008
Terlalu sering kami berpaling
Kamipun berpura menyamar
Dalam kebodohan, melata seperti binatang
Mata kami lirikkan kanan-kiri
Kelangit maupun bumi
Oh betapa bodohnya kami…
Kami malu, malu dan malu
Bagaimana mungkin kami bersembunyi
Bagaimana mungkin kami menyamar,
Kami sadar tak bisa lagi sembunyi
Tak mungkin lagi menyamar
Yang pasti kami sangat malu
Menatap diri sendiri
Mungkinkah kami mampu
Menatap wajahmu
Ampuni kami…
Tiko, 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
