Kuas datang kedalam lamunan gelisahku, "apa kabar mas,.. " sapanya, akupun cuma melirikkan bola mataku, menyambut dengan dingin sapaannya. Rasa-rasanya aku ogah untuk mengomentarinya, jangankan berkomentar menatap dengan sungguh-sungguh pun terasa jengah.
Mungkin terlihat janggal dalam pandanganmu, bahkan untuk kami sendiri. Mungkin dia juga merasa muak dengan tingkahku. Kata mereka yang mengutip dari bermacam jenis referensi ramalan entah itu weton, astrologi, tarot, garis tangan, dan lain-lain ditulis kami berjodoh?? (entah), tapi aku tak ambil pusing, karena memang selama ini kami “dengan prinsip sama-sama senang” tanpa ikatan telah “jalan bareng” ya kira-kira selama 12 tahun tanpa tuntutan yang berlebihan dari masing-masing, tetapi sebagai seorang lelaki, aku merasa selalu harus bertanggung jawab kepadanya, oleh karenanya perlakuan baik sebagaimana mestinya selalu ku berikan, dan selama itu pula, dia pun menerimaku apa adanya. Dan kami berjalan menyusuri waktu dengan menggenggam kalimat sakti: Masa Bodo Apa Kata Orang. Seiring waktu berlalu, musim berganti, hingga tiba juga saatnya untuk kami, mempertanyakan kembali apa yang telah kami perbuat dan hasilkan selama ini… tentang keyakinan, keindahan, cita-cita, mimpi, dan kalimat-kalimat sakti hingga kedekatan hubungan aneh ini.
Apakah ini bentuk sebuah penghianatan? Apakah ini sejenis tehnik kerok dan tusukan dari belakang? Atau jangan-jangan sebuah adu domba pemainan harga pihak ketiga? Ah… sepertinya tidak, selama ini dia dan aku tidak ada masalah dengan parau sumbangnya keheningan waktu…
Akupun kembali merunduk merenung, “tidak…, memang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.”
Aku tak bisa terus bersikap seperti ini, seperti sikap wanita yang hanyut dalam hayal minta dirajuk kembali oleh kekasihnya yang telah pergi. Aku seorang lelaki, lelaki sejati, lelaki tulen… pejantan dan tangguh. Lalu, ku pegangi erat gagangnya… "aku akan membawamu kepada mereka, kepada siapa saja."
"Aku tahu kita hidup di dunia yang aneh, dunia yang harus ada legalitas, baju, kopiah, kursi dan sendal. cinta harus mempunyai ijin mereka, cinta harus ada restu mereka."
"Oleh karena itu, akan kubuktikan kembali kembali untukmu… untukku, apakah restu dan surat ijin itu bisa diberikan mereka kepadaku kepadamu kepada kita."
"Kalau mereka memberikannya, tak jadi masalah untuk kita kembali bersama, tetapi jikalau masih juga tak kunjung tiba, aku berjanji,
berjanji membawamu serta ke jalan dan gang yang kebanyakan dari mereka berpaling darinya.
Tiko, September, 2009
Tampilkan postingan dengan label kolam seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kolam seni. Tampilkan semua postingan
MARTABAT BUNGLON, 2008-2009
MARTABAT BUNGLON, 2008-2009
Membunglon merupakan sebuah perwujudan kepekaan, sebuah ilmu kelas tinggi, yang hanya mampu dimiliki oleh orang-orang yang berjiwa besar.
Manusia harus belajar kepada bunglon untuk tetap selalu selaras dengan keadaan kiri dan kanannya, menyambut, menghadapi perubahan dengan gagah apapun juga yang akan terjadi. Gagah jangan kau sempitkan artinya pada mereka yang berteriak dan mencak-mencak!, tapi substansi gagah adalah berani menghadapi sesuatu, berani berubah dari kondisi satu ke kondisi yang lain. Perubahan yang diajarkan bunglon adalah perubahan diri dari dalam tanpa menyakiti orang lain. Membunglon tidak berarti plin-plan tanpa karakter, justru kesediaan untuk selalu meniadakan egoisme diri demi harnonisasi, dengan cara lebur terhadap keadaan sekitarnya.
Bukankah kita tengah beramai-ramai menyemarakkan mimpi itu untuk mendapatkan maqom mulia yang bernama martabat bunglon.
BAJU KEBESARAN DAN PILIHAN MEDAN RENANG, 2009
Untuk apa ragu-ragu lagi??, wong itu hanya sebuah baju.. gak usah banyak dipikir. Di sana ombaknya besar sekali, siapa yang akan menolongmu??
….;; hayo siapa??
BEBEK JAGOAN DAN PENGGEMBALA TENGIK, 2009
Berenang disini saja, sambil menikmati suguhan ikan dari para penggembala tengik. Disana ikan- disini ikan, kan sama-sama ikan.
Selamat untukmu kawan, kami akan selalu belajar kepadamu.
Tiko, juni 2009
Membunglon merupakan sebuah perwujudan kepekaan, sebuah ilmu kelas tinggi, yang hanya mampu dimiliki oleh orang-orang yang berjiwa besar.
Manusia harus belajar kepada bunglon untuk tetap selalu selaras dengan keadaan kiri dan kanannya, menyambut, menghadapi perubahan dengan gagah apapun juga yang akan terjadi. Gagah jangan kau sempitkan artinya pada mereka yang berteriak dan mencak-mencak!, tapi substansi gagah adalah berani menghadapi sesuatu, berani berubah dari kondisi satu ke kondisi yang lain. Perubahan yang diajarkan bunglon adalah perubahan diri dari dalam tanpa menyakiti orang lain. Membunglon tidak berarti plin-plan tanpa karakter, justru kesediaan untuk selalu meniadakan egoisme diri demi harnonisasi, dengan cara lebur terhadap keadaan sekitarnya.
Bukankah kita tengah beramai-ramai menyemarakkan mimpi itu untuk mendapatkan maqom mulia yang bernama martabat bunglon.
BAJU KEBESARAN DAN PILIHAN MEDAN RENANG, 2009
Untuk apa ragu-ragu lagi??, wong itu hanya sebuah baju.. gak usah banyak dipikir. Di sana ombaknya besar sekali, siapa yang akan menolongmu??
….;; hayo siapa??
BEBEK JAGOAN DAN PENGGEMBALA TENGIK, 2009
Berenang disini saja, sambil menikmati suguhan ikan dari para penggembala tengik. Disana ikan- disini ikan, kan sama-sama ikan.
Selamat untukmu kawan, kami akan selalu belajar kepadamu.
Tiko, juni 2009
GAMBAR BENTUK
Tiko, Juni 2009
Kali ini Mr.Dosenku membawakan obyek yang tak biasa. Ketika membuka kelas dengan gayanya yang cengengesan menampilkan sebuah kontradiksi dengan karakter wajahnya yang mempunyai raut muka serius yang akhirnya selalu membuat kami kangen dan memaafkan beliau. Ia masuk kedalam kelas dengan bersiul-siul kecil. Dikempitnya tiga pasang obyek yang bentuknya mirip sebuah boneka, Masing-masing obyek memiliki warna dasar yang berbeda. Kemudian dengan gerakan ekspresif, ia melemparkan tiga pasang obyek itu ke atas meja di depan kelas. Gedobraak….!!, kami kaget, kemudian sambil berpandang-pandangan satu sama laen, spontan bahu kami gerakkan ke atas dengan mengepyarkan jemari dan telapak tangan ke atas seperti ketika dalam posisi berdoa, alis kamipun bergerak-gerak naik turun sebagai bahasa tubuh kami, yang menandakan ketidak tahuan atas maksud dan tinggkah polah Mr.Dosen. bola mata kami saling lirik, melemparkan pertanyaan-pertanyaan diantara kami.
Mr.Dosen keluar lagi, sepertinya mengambil sesuatu yang masih ketinggalan. Benar sekali, tak lama kemudian ia kembali dengan membawa sebuah kotak besar, semacam pustek berwarna hijau. Ia taruh diatas meja di depan kelas, kemudian memasukkan ketiga pasang obyek itu kedalam kotak. Ia memutar kotak itu, yang ternyata disalah satu sisinya berbahan seperti kaca yang tembus pandang. Mr.Dosen menyuruh kami mengamati dengan teliti, menemukan keunikan, karakteristik dan keindahan dari ketiga obyek itu, kemudian memerintahkan kami untuk mengekspresiakan apa yang kami lihat tadi keatas selembar kertas yang ada materai dan stempel bergambar burung diatasnya yang sudah diberikannya diawal tadi. Setelah memberikan tugas kepada kami, ia pun pergi lagi entah kemana.
Pelajaran gambar bentuk yang aneh pikirku…
Kami pun mulai mengamati secara detail kedalam kotak itu, kepada ketiga pasang obyek tersebut. Istilah kerennya berkonsentrasi dan fokus. Lho, lho-lho..!, kami semua kaget, ternyata ketiga pasang obyek itu bukan sembarang obyek!. Pernah nonton film CR7 nya Steven Chow, boneka dari luar angkasa yang hidup dan berinteraksi itu?, ternyata ketiga pasang obyek itu memiliki karakter yang hampir mirip, karena bisa diajak berinteraksi dan bisa berinteraksi dengan sesamanya. Mula-mula mereka bernyanyi bersama. Kemudian berdeklamasi dan membaca puisi. Dilanjutkan berdansa dan saling bertukar pasangan. Sungguh lucu dan benar-benar lucu, kami malah jadi asyik melihat tingkah polah mereka.
Ketiga pasang obyek itu kemudian bermain catur. Catur dengan metode permainan monopoli, yang memakai uang-uangan, aturan-aturanan, pembangunan-pembangunanan, pajak-pajakan, penjara-penjaranan, dsb. Asyik banget mereka dengan permainannya. Mereka mulai saling ngeles satu sama lain, saling sindir, saling buka aib dengan semangat kompetisi. Ada-ada saja ulah mereka. Kami sepertinya tersihir oleh tingkah polah lucu mereka, sehingga lupa akan tugas yang diberikan Mr.Dosen kepada kami.
Tibalah waktu Mr.Dosen datang lagi ke kelas, ternyata jatah jam untuk menggambar yang diberikan kepada kami telah habis. Ia memerintahkan untuk mengumpulkan hasil karya kami, apapun yang telah dihasilkan. Kami pun kembali kebingungan, karena tak ada satu pun dari kami yang sudah menggambar sesuai dengan perintah tugas yang diberikan Mr.Dosen.
Ngapain kalian bingung, kumpulkan saja kertas kalian, masukkan sekalian di dalam kotak itu katanya. Nanti tolong bawakan sekalian kotak itu ke ruangan saya.
Sesudah mengatakan itu, Mr.Dosen membalikkan badan dan keluar kelas dengan cepat. Sekali lagi kami pun saling berpandangan???, untuk beberapa saat tak ada yang keluar dari mulut kami selain bau mulut, barisan gigi dan deru nafas.
Salah satu kawanku berkata lantang: Bagaimana kawan, masukkan kertas gak???
tak ada jawaban, tak ada sesuatu kecuali suara itu. Hahahahahahaha……
Kali ini Mr.Dosenku membawakan obyek yang tak biasa. Ketika membuka kelas dengan gayanya yang cengengesan menampilkan sebuah kontradiksi dengan karakter wajahnya yang mempunyai raut muka serius yang akhirnya selalu membuat kami kangen dan memaafkan beliau. Ia masuk kedalam kelas dengan bersiul-siul kecil. Dikempitnya tiga pasang obyek yang bentuknya mirip sebuah boneka, Masing-masing obyek memiliki warna dasar yang berbeda. Kemudian dengan gerakan ekspresif, ia melemparkan tiga pasang obyek itu ke atas meja di depan kelas. Gedobraak….!!, kami kaget, kemudian sambil berpandang-pandangan satu sama laen, spontan bahu kami gerakkan ke atas dengan mengepyarkan jemari dan telapak tangan ke atas seperti ketika dalam posisi berdoa, alis kamipun bergerak-gerak naik turun sebagai bahasa tubuh kami, yang menandakan ketidak tahuan atas maksud dan tinggkah polah Mr.Dosen. bola mata kami saling lirik, melemparkan pertanyaan-pertanyaan diantara kami.
Mr.Dosen keluar lagi, sepertinya mengambil sesuatu yang masih ketinggalan. Benar sekali, tak lama kemudian ia kembali dengan membawa sebuah kotak besar, semacam pustek berwarna hijau. Ia taruh diatas meja di depan kelas, kemudian memasukkan ketiga pasang obyek itu kedalam kotak. Ia memutar kotak itu, yang ternyata disalah satu sisinya berbahan seperti kaca yang tembus pandang. Mr.Dosen menyuruh kami mengamati dengan teliti, menemukan keunikan, karakteristik dan keindahan dari ketiga obyek itu, kemudian memerintahkan kami untuk mengekspresiakan apa yang kami lihat tadi keatas selembar kertas yang ada materai dan stempel bergambar burung diatasnya yang sudah diberikannya diawal tadi. Setelah memberikan tugas kepada kami, ia pun pergi lagi entah kemana.
Pelajaran gambar bentuk yang aneh pikirku…
Kami pun mulai mengamati secara detail kedalam kotak itu, kepada ketiga pasang obyek tersebut. Istilah kerennya berkonsentrasi dan fokus. Lho, lho-lho..!, kami semua kaget, ternyata ketiga pasang obyek itu bukan sembarang obyek!. Pernah nonton film CR7 nya Steven Chow, boneka dari luar angkasa yang hidup dan berinteraksi itu?, ternyata ketiga pasang obyek itu memiliki karakter yang hampir mirip, karena bisa diajak berinteraksi dan bisa berinteraksi dengan sesamanya. Mula-mula mereka bernyanyi bersama. Kemudian berdeklamasi dan membaca puisi. Dilanjutkan berdansa dan saling bertukar pasangan. Sungguh lucu dan benar-benar lucu, kami malah jadi asyik melihat tingkah polah mereka.
Ketiga pasang obyek itu kemudian bermain catur. Catur dengan metode permainan monopoli, yang memakai uang-uangan, aturan-aturanan, pembangunan-pembangunanan, pajak-pajakan, penjara-penjaranan, dsb. Asyik banget mereka dengan permainannya. Mereka mulai saling ngeles satu sama lain, saling sindir, saling buka aib dengan semangat kompetisi. Ada-ada saja ulah mereka. Kami sepertinya tersihir oleh tingkah polah lucu mereka, sehingga lupa akan tugas yang diberikan Mr.Dosen kepada kami.
Tibalah waktu Mr.Dosen datang lagi ke kelas, ternyata jatah jam untuk menggambar yang diberikan kepada kami telah habis. Ia memerintahkan untuk mengumpulkan hasil karya kami, apapun yang telah dihasilkan. Kami pun kembali kebingungan, karena tak ada satu pun dari kami yang sudah menggambar sesuai dengan perintah tugas yang diberikan Mr.Dosen.
Ngapain kalian bingung, kumpulkan saja kertas kalian, masukkan sekalian di dalam kotak itu katanya. Nanti tolong bawakan sekalian kotak itu ke ruangan saya.
Sesudah mengatakan itu, Mr.Dosen membalikkan badan dan keluar kelas dengan cepat. Sekali lagi kami pun saling berpandangan???, untuk beberapa saat tak ada yang keluar dari mulut kami selain bau mulut, barisan gigi dan deru nafas.
Salah satu kawanku berkata lantang: Bagaimana kawan, masukkan kertas gak???
tak ada jawaban, tak ada sesuatu kecuali suara itu. Hahahahahahaha……
PEMBUKAAN PAMERAN
Tiko, mei 2009
Malam kala itu meriah sekali, Jhoni begitu gembira dan merasa sukses besar dalam menggelar pameran seni rupa bersama kelompok Bhatara-nya. Sejak jam 6 ia sudah standby untuk menyambut para tamu undangan dan yang tak diundang. Tamu-tamu mulai berdatangan, ia salami satu persatu dengan ucapan terimakasih atas kedatangan mereka. Sebagai balasan adalah ucapan selamat dari para tamu atas usahanya menyelenggarakan pameran tersebut. Memang sebagai satu kelompok, ia tidak sendirian dalam pamerannya itu ada 4 temannya yang lain, tetapi sebagai penggagas kelompok dan sekaligus ketuanya, terlihat sangat jelas naluri penonjolan diri atas teman-teman lainnya. Dengan baju safari celana jeans dan sepatu vantofel ia berjalan tegap dan penuh percaya diri, rambut cepak yang disisir rapi terlihat jelas ia tidak melupakan memakai minyak rambut. Tak lupa senyumannya itu yang begitu menggugah selera unuk beramah-tamah dengan siapa saja yang ditemuinya malam itu.
Langit terlihat cerah, bintang-bintang bertaburan. Udara terasa segar sekali, berita tentang sebuah kota yang rawan polusi udara dari knalpot gugur malam itu. Tidak mengherankan jika sebuah ruang pamer di ujung utara kota begitu ramai, karena pembukaan pameran seni rupa Bhatara adalah sebuah agenda penting bagi siapa saja yang mengaku penikmat, pemerhati, maupun para sporter kesenian di Yogyakarta. Mengapa begitu penting??, Jhoni memang termasuk seniman berkelas dengan karya yang berbobot. Apalagi dengan 4 temannya yang lain, Jh0han, Jefri, Juwita dan Jojon yang telah malang melintang dan ber jam terbang tinggi dalam even pameran skala lokal, nasional maupun internasional. Pendek kata mereka adalah para seniman top markotob dengan karya yang selalu ditunggu ummat kesenian di ibu kota Yogyakarta. Dalam pameran kelompok kali ini memang disiapkan dengan serius oleh pengelola galeri, karenanya 3 orang curator disiapkan sekaligus untuk menunjukkan prestise maupun bobot tema dan isu yang diangkat para seniman, Jhoni memang ketua, tetapi pemilik gallery itulah yang memegang kartu,
Seperti biasa, hari pembukaan pameran adalah sesuatu yang spesial seperti juga malam pertama, ada macam-macam alasan untuk berjumpa dengan malam pertama ini, ada yang karena penasaran, ada yang karena ramainya, ada yang karena reuninya, ada yang karena catalog gratisnya, ada yang karena suguhan hiburannya, ada yang karena makanan dan snack nya, dll. Malam itu aku berangkat karena undangan dari Juwita lewat sms yang dikirim malam sebelumnya. Juwita yang cantik jelita dengan lesung pipit di pipi kanannya. Sesampainya di sana tamu-tamu sudah memenuhi kursi undangan bahkan tak sedikit pula yang terpaksa berdiri, sedangkan aku harus berada di pinggir jalan raya, karena memang kondisinya tidak memunginkan untuk bisa masuk bahkan di halaman galerinya. Tak lama berselang aku berdiri Mas Bumi lewat dan kebetulan karena dia juga berangkat sendiri, kami kemudian ngobrol sambil merokok 234 sembari menungu pintu dibuka. Pembukaan itu memang special, karena bertepatan dengan ulang tahun galeri yang ke 6, oleh karena itu hiburan organ tunggal dari Sapto SE, Sarjana Electone dengan 5 biduannya mampu menjadi magnet tersendiri, karena kekocakan dan kemahirannya dalam memainkan organ, ditambah lagi sepasang pelawak kondang Jola&Joli dari imogiri yang ada-ada saja caranya untuk membuat seluruh hadirin tertawa terpingkal-pingkal.
Pembukaan pintu tak kunjung dimulai, sepertinya banyak juga yang merasakan sesuatu yang sama dengan aku. Curator masih saja berbaik hati merendahkan diri untuk meninggikan kualitas karya dan pameran tersebut, sedangkan seperti yang sudah kita ketahui sendiri, hampir semua yang hadir disana adalah orang yang bergelut, bersetubuh siang malam dengan karya seni. Para hadirinpun dengan besar hati dan sabar mendengarkan untaian hikmah kesenian dari beliau. Sungguh suatu gambaran peristiwa besar, kebesaran jiwa untuk saling menjaga, melindungi, dan menghargai yang menunjukkan sekali lagi jogja adalah kawah candradimuka bagi siapa saja yang ingin menjadi gatutkaca. Tidak di kampus-kampus keseniannya, di galeri-galeri, sanggar, kelompok, komunitas, jalanan, dinding-dinding , lorong, kampung dan sebagainya tetapi dengan cukup diam dan mengalir mengikuti arus saja.
Akhirnya pembukaan pintu pertama oleh seseorang yang sangat dihormati disana tiba juga. Ada dua titik yang dituju oleh hadirin, pintu ruang pameran dan samping gallery tempat dimana suguhan pembukaan berada. Bagi seniman debutan yang biasanya melewati masa menjadi snaker, malam itu adalah malam yang membahagiakan, karena suguhannya beragam, ada soto, pecel, dan snack yang beraneka warna ditambah jenis pilihan minuman dari panas sampai dingin, air putih sampai alcohol. Akupun menuju kepintu utama gallery, bukan karena sudah rindu melihat karya yang berkualitas, bukan pula karena telah pensiun menjadi snacker, tetapi kebetulan aku mengambil posisi berdiri lebih dekat dengan pintu gallery dari pada meja makanan.
Setelah masuk dan melihat beberapa karya aku melihat Juwita dan langsung saja kujabat tangannya sambil mengucapkan selamat berpameran. Wajahnya terlihat begitu berbinar-binar dengan baju warna birunya yang disorot sinar lampu yang benderang di ruang gallery, menjadikannya terlihat begitu anggun sekali malam itu. Ia pun mengucapkan terimakasih atas kedatanganku. Di depan karyanya ia mengajakku berfoto, kamipun memasang gaya untuk 2 kali jepretan, maklumlah, kami dulu pernah deket tetapi tak pernah jadian, karena memang saat itu ia sedang berpacaran dengan cowok lain yang berprofesi sebagai fotografer, dan kabarnya mereka telah putus sekarang. Alhamdulillah. Setelah itu tak kulupakan untuk memuji penampilannya yang sempurna malam itu, sebagai kredit point untuk sms atau telepon untuk malam-malam berikutnya.
Akupun kembali berjalan melewati karya satu-persatu, dengan sekali jalan dan sesekali berdiri agak lama untuk menikmati dan menemukan keunikan karya yang kupikir menarik. Hal yang sama dilakukan oleh hampir semua pengunjung disana. Satu putaran sudah cukup memenuhi kepala, apa itu, aku juga gak tahu. Dari luar suara kendang dan biduan beradu merdu, membuat langkahku tertuju kesitu, dan sedikit menikmati suguhan jasmani, pecel mediun dan minuman hangat. Lumayan sebagai pengganjal perut yang sedari tadi ingin diisi.
Di jogja, setiap ada acara pembukaan memang meriah dan penuh sesak penonton, bahkan ada salah satu gallery di sana yang sampai menerapkan sistem kloter, bagi penonton yang datang untuk dapat masuk ruang pamer dalam sebuah even seremonial opening. Begitulah semangat yang terlihat jelas dalam berapresiasi dari masyarakat khususnya sahabat-sahabat yang beremblem atau berkartu anggota komunitas seni sendiri. Entah mereka yang berada diluar lingkarannya. Tiba-tiba aku berdiri disitu dan tersadar semua rambutku telah memutih, kiri kananku mereka yang duduk disana, yang di samping situ, yang berjalan mondar mandir, yang sedang makan, yang memegang segelas teh, yang sedang menuang kopi, yang bergerombol dan tertawa terbahak-bahak, semua yang kukenal dan yang baru ketemui beberapa menit yang lalu, sahabat-sahabatku ada yang terliahat semakin kurus, ada yang semakin pendek dan gemuk, tetapi tulang pipi dan keriput wajah mereka, uban mereka,…. , dengan spontan kedua telapak tanganku mendarat dimuka, kurasakan kulit ini teras lembek dan keriput persis seperti lainnya. Aku tertegun diam dan sunyi, sekejap terasa angin lembut lewati sukma. Dan kedua telapak tanganku terasa basah penuh dengan air mata.
Tepukan dipundak menyadarkan lamunanku, “oh juwita..,” diapun terlihat sudah tua, tetapi kecantikannya tak memudar, bahkan semakin bersinar.
“Ayo mas, sudah malam, kita pulang saja, kasihan anak-anak”
Tangannya merengkuh lenganku dengan manja, sambil meririk mataku memerhatikan sekejap sambil berujar,
“Kenapa matanya merah?” Kupandangi dengan dalam bola matanya, sambil kemudian menggeleng-geleng pelan sembari tersenyum kecil.
Kamipun berjalan keluar, dan tentu saja bergandengan tangan. Sambil melangkah ketengok sekali lagi kebelakang. Di atas panggung yang tak begitu tinggi, tiga biduan masih bergoyang.
Dalam hatiku bertanya: aneh, kok mereka masih tetep muda?.
Malam kala itu meriah sekali, Jhoni begitu gembira dan merasa sukses besar dalam menggelar pameran seni rupa bersama kelompok Bhatara-nya. Sejak jam 6 ia sudah standby untuk menyambut para tamu undangan dan yang tak diundang. Tamu-tamu mulai berdatangan, ia salami satu persatu dengan ucapan terimakasih atas kedatangan mereka. Sebagai balasan adalah ucapan selamat dari para tamu atas usahanya menyelenggarakan pameran tersebut. Memang sebagai satu kelompok, ia tidak sendirian dalam pamerannya itu ada 4 temannya yang lain, tetapi sebagai penggagas kelompok dan sekaligus ketuanya, terlihat sangat jelas naluri penonjolan diri atas teman-teman lainnya. Dengan baju safari celana jeans dan sepatu vantofel ia berjalan tegap dan penuh percaya diri, rambut cepak yang disisir rapi terlihat jelas ia tidak melupakan memakai minyak rambut. Tak lupa senyumannya itu yang begitu menggugah selera unuk beramah-tamah dengan siapa saja yang ditemuinya malam itu.
Langit terlihat cerah, bintang-bintang bertaburan. Udara terasa segar sekali, berita tentang sebuah kota yang rawan polusi udara dari knalpot gugur malam itu. Tidak mengherankan jika sebuah ruang pamer di ujung utara kota begitu ramai, karena pembukaan pameran seni rupa Bhatara adalah sebuah agenda penting bagi siapa saja yang mengaku penikmat, pemerhati, maupun para sporter kesenian di Yogyakarta. Mengapa begitu penting??, Jhoni memang termasuk seniman berkelas dengan karya yang berbobot. Apalagi dengan 4 temannya yang lain, Jh0han, Jefri, Juwita dan Jojon yang telah malang melintang dan ber jam terbang tinggi dalam even pameran skala lokal, nasional maupun internasional. Pendek kata mereka adalah para seniman top markotob dengan karya yang selalu ditunggu ummat kesenian di ibu kota Yogyakarta. Dalam pameran kelompok kali ini memang disiapkan dengan serius oleh pengelola galeri, karenanya 3 orang curator disiapkan sekaligus untuk menunjukkan prestise maupun bobot tema dan isu yang diangkat para seniman, Jhoni memang ketua, tetapi pemilik gallery itulah yang memegang kartu,
Seperti biasa, hari pembukaan pameran adalah sesuatu yang spesial seperti juga malam pertama, ada macam-macam alasan untuk berjumpa dengan malam pertama ini, ada yang karena penasaran, ada yang karena ramainya, ada yang karena reuninya, ada yang karena catalog gratisnya, ada yang karena suguhan hiburannya, ada yang karena makanan dan snack nya, dll. Malam itu aku berangkat karena undangan dari Juwita lewat sms yang dikirim malam sebelumnya. Juwita yang cantik jelita dengan lesung pipit di pipi kanannya. Sesampainya di sana tamu-tamu sudah memenuhi kursi undangan bahkan tak sedikit pula yang terpaksa berdiri, sedangkan aku harus berada di pinggir jalan raya, karena memang kondisinya tidak memunginkan untuk bisa masuk bahkan di halaman galerinya. Tak lama berselang aku berdiri Mas Bumi lewat dan kebetulan karena dia juga berangkat sendiri, kami kemudian ngobrol sambil merokok 234 sembari menungu pintu dibuka. Pembukaan itu memang special, karena bertepatan dengan ulang tahun galeri yang ke 6, oleh karena itu hiburan organ tunggal dari Sapto SE, Sarjana Electone dengan 5 biduannya mampu menjadi magnet tersendiri, karena kekocakan dan kemahirannya dalam memainkan organ, ditambah lagi sepasang pelawak kondang Jola&Joli dari imogiri yang ada-ada saja caranya untuk membuat seluruh hadirin tertawa terpingkal-pingkal.
Pembukaan pintu tak kunjung dimulai, sepertinya banyak juga yang merasakan sesuatu yang sama dengan aku. Curator masih saja berbaik hati merendahkan diri untuk meninggikan kualitas karya dan pameran tersebut, sedangkan seperti yang sudah kita ketahui sendiri, hampir semua yang hadir disana adalah orang yang bergelut, bersetubuh siang malam dengan karya seni. Para hadirinpun dengan besar hati dan sabar mendengarkan untaian hikmah kesenian dari beliau. Sungguh suatu gambaran peristiwa besar, kebesaran jiwa untuk saling menjaga, melindungi, dan menghargai yang menunjukkan sekali lagi jogja adalah kawah candradimuka bagi siapa saja yang ingin menjadi gatutkaca. Tidak di kampus-kampus keseniannya, di galeri-galeri, sanggar, kelompok, komunitas, jalanan, dinding-dinding , lorong, kampung dan sebagainya tetapi dengan cukup diam dan mengalir mengikuti arus saja.
Akhirnya pembukaan pintu pertama oleh seseorang yang sangat dihormati disana tiba juga. Ada dua titik yang dituju oleh hadirin, pintu ruang pameran dan samping gallery tempat dimana suguhan pembukaan berada. Bagi seniman debutan yang biasanya melewati masa menjadi snaker, malam itu adalah malam yang membahagiakan, karena suguhannya beragam, ada soto, pecel, dan snack yang beraneka warna ditambah jenis pilihan minuman dari panas sampai dingin, air putih sampai alcohol. Akupun menuju kepintu utama gallery, bukan karena sudah rindu melihat karya yang berkualitas, bukan pula karena telah pensiun menjadi snacker, tetapi kebetulan aku mengambil posisi berdiri lebih dekat dengan pintu gallery dari pada meja makanan.
Setelah masuk dan melihat beberapa karya aku melihat Juwita dan langsung saja kujabat tangannya sambil mengucapkan selamat berpameran. Wajahnya terlihat begitu berbinar-binar dengan baju warna birunya yang disorot sinar lampu yang benderang di ruang gallery, menjadikannya terlihat begitu anggun sekali malam itu. Ia pun mengucapkan terimakasih atas kedatanganku. Di depan karyanya ia mengajakku berfoto, kamipun memasang gaya untuk 2 kali jepretan, maklumlah, kami dulu pernah deket tetapi tak pernah jadian, karena memang saat itu ia sedang berpacaran dengan cowok lain yang berprofesi sebagai fotografer, dan kabarnya mereka telah putus sekarang. Alhamdulillah. Setelah itu tak kulupakan untuk memuji penampilannya yang sempurna malam itu, sebagai kredit point untuk sms atau telepon untuk malam-malam berikutnya.
Akupun kembali berjalan melewati karya satu-persatu, dengan sekali jalan dan sesekali berdiri agak lama untuk menikmati dan menemukan keunikan karya yang kupikir menarik. Hal yang sama dilakukan oleh hampir semua pengunjung disana. Satu putaran sudah cukup memenuhi kepala, apa itu, aku juga gak tahu. Dari luar suara kendang dan biduan beradu merdu, membuat langkahku tertuju kesitu, dan sedikit menikmati suguhan jasmani, pecel mediun dan minuman hangat. Lumayan sebagai pengganjal perut yang sedari tadi ingin diisi.
Di jogja, setiap ada acara pembukaan memang meriah dan penuh sesak penonton, bahkan ada salah satu gallery di sana yang sampai menerapkan sistem kloter, bagi penonton yang datang untuk dapat masuk ruang pamer dalam sebuah even seremonial opening. Begitulah semangat yang terlihat jelas dalam berapresiasi dari masyarakat khususnya sahabat-sahabat yang beremblem atau berkartu anggota komunitas seni sendiri. Entah mereka yang berada diluar lingkarannya. Tiba-tiba aku berdiri disitu dan tersadar semua rambutku telah memutih, kiri kananku mereka yang duduk disana, yang di samping situ, yang berjalan mondar mandir, yang sedang makan, yang memegang segelas teh, yang sedang menuang kopi, yang bergerombol dan tertawa terbahak-bahak, semua yang kukenal dan yang baru ketemui beberapa menit yang lalu, sahabat-sahabatku ada yang terliahat semakin kurus, ada yang semakin pendek dan gemuk, tetapi tulang pipi dan keriput wajah mereka, uban mereka,…. , dengan spontan kedua telapak tanganku mendarat dimuka, kurasakan kulit ini teras lembek dan keriput persis seperti lainnya. Aku tertegun diam dan sunyi, sekejap terasa angin lembut lewati sukma. Dan kedua telapak tanganku terasa basah penuh dengan air mata.
Tepukan dipundak menyadarkan lamunanku, “oh juwita..,” diapun terlihat sudah tua, tetapi kecantikannya tak memudar, bahkan semakin bersinar.
“Ayo mas, sudah malam, kita pulang saja, kasihan anak-anak”
Tangannya merengkuh lenganku dengan manja, sambil meririk mataku memerhatikan sekejap sambil berujar,
“Kenapa matanya merah?” Kupandangi dengan dalam bola matanya, sambil kemudian menggeleng-geleng pelan sembari tersenyum kecil.
Kamipun berjalan keluar, dan tentu saja bergandengan tangan. Sambil melangkah ketengok sekali lagi kebelakang. Di atas panggung yang tak begitu tinggi, tiga biduan masih bergoyang.
Dalam hatiku bertanya: aneh, kok mereka masih tetep muda?.
Pacarnya Rupa,sudahkah engkau berkarya?
Nyatanya sepi-sepi saja, emang berapa mata yang mau melihatmu?
Jangan-jangan kamu palsu, hingga orang tak mau melihatmu.
Atau jangan-jangan kamu begitu asli,
sementara mereka yang diluar sana super palsu dan maaf,
mungkin matane mereka cuma mampu memandang yang palsu?
Yang terjadi kan kau menggelarnya disana,
Kau pindah disini,
Kau geser lagi disana,
Oalah-oalah
Sibuk sekali engkau dengan permainanmu itu,
Penting enggak sih?
Bisa enggak ya, umpama setiap kilatan bayang mata mereka
Memancar senyum indah warnamu.
Cembung bola mata mereka
Memantul balance komposisimu.
Dan setiap fokus pandangannya adalah totalitas ekspresi estetikmu
Hingga ketika mereka menangkap ujaranmu,
Menikmati serasa memilikimu dan sesuatu itu.
Bahkan jikalau mata terpejam dan waktu berlalu,
Engkau mampu berada dalam kegelapannya
Dengan terangnya keelokannmu
Syukur engkau mampu menemaninya
Dalam setiap gerak lakunya
Rupa, ijinkan aku disini
Merindumu.
Tiko, 2 April 2009
Nyatanya sepi-sepi saja, emang berapa mata yang mau melihatmu?
Jangan-jangan kamu palsu, hingga orang tak mau melihatmu.
Atau jangan-jangan kamu begitu asli,
sementara mereka yang diluar sana super palsu dan maaf,
mungkin matane mereka cuma mampu memandang yang palsu?
Yang terjadi kan kau menggelarnya disana,
Kau pindah disini,
Kau geser lagi disana,
Oalah-oalah
Sibuk sekali engkau dengan permainanmu itu,
Penting enggak sih?
Bisa enggak ya, umpama setiap kilatan bayang mata mereka
Memancar senyum indah warnamu.
Cembung bola mata mereka
Memantul balance komposisimu.
Dan setiap fokus pandangannya adalah totalitas ekspresi estetikmu
Hingga ketika mereka menangkap ujaranmu,
Menikmati serasa memilikimu dan sesuatu itu.
Bahkan jikalau mata terpejam dan waktu berlalu,
Engkau mampu berada dalam kegelapannya
Dengan terangnya keelokannmu
Syukur engkau mampu menemaninya
Dalam setiap gerak lakunya
Rupa, ijinkan aku disini
Merindumu.
Tiko, 2 April 2009
Hallo seni rupa
Hallo seni rupa
Apa kabarmu di sana
Ngambek yah
Kok diem terus sich
Mbok ya bohong
Aku pingin kau gombalin lagi
Hallo seni rupa
Cakram mu luar biasa
Emang beli dimana
Bagi untukku juga
Hallo seni rupa
Rupa-rupanya
Wajahmu memerah juga
Krasa apa pura-pura
Hallo seni rupa
Aku menantimu
dimana-mana
tiko, maret 2009
Apa kabarmu di sana
Ngambek yah
Kok diem terus sich
Mbok ya bohong
Aku pingin kau gombalin lagi
Hallo seni rupa
Cakram mu luar biasa
Emang beli dimana
Bagi untukku juga
Hallo seni rupa
Rupa-rupanya
Wajahmu memerah juga
Krasa apa pura-pura
Hallo seni rupa
Aku menantimu
dimana-mana
tiko, maret 2009
MASUK ANGIN
Pancaroba telah tiba, dari musim panas menuju musim hujan
Udara, angin, panas, hujan berganti tak beraturan
Serangga-serangga mulai berterbangan, tandai wabah penyakit yang hendak menyerang
Kanvasku malam itu kedinginan,
Batuk-batuk dan meriang
Ia bersandar lemas di sudut ruangan
……….
Semalam ia tidak bisa tidur
Gelisah dan terlihat pucat
Memikirkan teman-temannya,
yang kabarnya telah tersesat dan salah jalan
rintihannya kala itu membuatku pusing, …
aku gak tahan mendengarnya
lalu aku mendatanginya
Kamu itu gak usah mikir macem-macem kataku.
Mereka disana senang dan gembira,
bahkan bangga dengan keberadaannya,
toh kamu juga lihat sendiri,
make-up berwarna cerah ceria selalu di wajahnya.
Sudahlah kamu jangan mikir macem-macem,
toh kamu juga lagi sakit.
Apalagi ??
Kamu juga mikirin teman-temanmu yang juga lagi opname?
Si Kolase, Si Abstrak, Si Dekoratif, Si Naif
dan siapa lagi itu nama-nama temanmu itu.
santai sajalah,
Tuan-tuannya sudah mulai tahu kok,
Itu semua bukan tujuan
Melainkan make-up nya, riasan wajahnya,
ekspresi mukanya
Untuk pentas pertunjukan yang lebih luas,
lebih jauh dan hiburan kemanusiaan
human values.
Oalah,…
Aku tahu koq sebenarnya keluhanmu
Kamu gerah to? Masuk angin to?
Yaudah
Sini tak kerokin lagi
Tak bikin merah
Maafin aku yah
Seminggu yang lalu aku khilaf
Aku jual diri
Tiko, 18 maret 2009
Udara, angin, panas, hujan berganti tak beraturan
Serangga-serangga mulai berterbangan, tandai wabah penyakit yang hendak menyerang
Kanvasku malam itu kedinginan,
Batuk-batuk dan meriang
Ia bersandar lemas di sudut ruangan
……….
Semalam ia tidak bisa tidur
Gelisah dan terlihat pucat
Memikirkan teman-temannya,
yang kabarnya telah tersesat dan salah jalan
rintihannya kala itu membuatku pusing, …
aku gak tahan mendengarnya
lalu aku mendatanginya
Kamu itu gak usah mikir macem-macem kataku.
Mereka disana senang dan gembira,
bahkan bangga dengan keberadaannya,
toh kamu juga lihat sendiri,
make-up berwarna cerah ceria selalu di wajahnya.
Sudahlah kamu jangan mikir macem-macem,
toh kamu juga lagi sakit.
Apalagi ??
Kamu juga mikirin teman-temanmu yang juga lagi opname?
Si Kolase, Si Abstrak, Si Dekoratif, Si Naif
dan siapa lagi itu nama-nama temanmu itu.
santai sajalah,
Tuan-tuannya sudah mulai tahu kok,
Itu semua bukan tujuan
Melainkan make-up nya, riasan wajahnya,
ekspresi mukanya
Untuk pentas pertunjukan yang lebih luas,
lebih jauh dan hiburan kemanusiaan
human values.
Oalah,…
Aku tahu koq sebenarnya keluhanmu
Kamu gerah to? Masuk angin to?
Yaudah
Sini tak kerokin lagi
Tak bikin merah
Maafin aku yah
Seminggu yang lalu aku khilaf
Aku jual diri
Tiko, 18 maret 2009
TIGA KALI LIPAT
Joko, seorang pelukis yang sama sekali gak top ikut merasakan imbas boom seni lukis sewon. Kawan-kawan seangkatannya sudah banyak yang “melejit”, termasuk juga pada harga karya mereka. Mobil bukan lagi barang mewah, bayar kontrakan tidak lagi jadi masalah, kalau perlu bayarnya dua tahun dipakainya setahun, bahkan kalau pemilik kontrakan minta utangan untuk alasan ini-itu, langsung mereka kabulkan tanpa menaruh rasa curiga. Itulah bukti rasa dermawan yang dimiliki teman-temannya. Pelukis tadi oleh kawan-kawannya diprasangkai baik, di tuduh turut mencicipi “kue manis” tersebut, sepertinya gak adil juga kalau sebenarnya seperti biasanya hari-harinya di jalani dengan puasa. Dalam lamunan kegelisahannya ia mencoba mencermati “kesalahan strategi” dalam memenejemeni karyanya selama ini. Ia menaruh curiga dalam hal pemberian nominal harga lukisannya, karena dalam pengalamannya ia memberikan harga yang murah untuk karyanya, bahkan ia sesekali menurunkan harga itu, tetapi masih juga gak ada yang melirik. Padahal seperti yang ia lihat sendiri “semakin tinggi harga karya semakin gagah karya itu di pandangan mata mereka”, dengan kata lain kegagahan karya terletak pada harganya, akhirnya ia pun berspekulasi menaikkan harga karyanya 3 sampai 4 kali lipat dari harga sebelumnya. Akhirnya betapa mengejutkan, tanpa disangka-sangka para kolektor, kolekdol, curator, kritikus, di negeri itu riuh rendah mengerubungi dan menjilati karya yang aneh tersebut.
Tiko, mei 2008
Tiko, mei 2008
CANGGIH SEPERTI TAI
Suatu sore tamparan datang di muka kami.
Kau dedikasikan karyamu untuk siapa?
Apa yang kau lukis?
Masyarakat bawah?
“Siapa tahu dengan lukisanku ini kolektor-kolektor bisa tergerak untuk lebih merasakan himpitan hidup orang-orang kecil”
“Ah, kau terlalu pandai untuk memutar balikkan kata, jika engkau memang berempati pada mereka, mampu merasakan yang mereka alami, turunlah dan carilah solusi bagi persoalan mereka, jangan kau eksploitir dengan bentuk yang lain, jangan Cuma memandang mereka sebagai objek artistic karyamu”
“Memang begitulah tugas seniman, urusan moral sudah ada bagiannya sendiri. Disana ada banyak ahli agama, ahli sosial dan ahli-ahli lainnya yang lebih tepat”
“Pakai jubah kesenianmu,… aku muak dengan ide-ide besarmu, aku muak dengan ocehan kosongmu.
Kecanggihan berpikirmu seperti tai”
Tiko, pertengahan tahun 2008
Kau dedikasikan karyamu untuk siapa?
Apa yang kau lukis?
Masyarakat bawah?
“Siapa tahu dengan lukisanku ini kolektor-kolektor bisa tergerak untuk lebih merasakan himpitan hidup orang-orang kecil”
“Ah, kau terlalu pandai untuk memutar balikkan kata, jika engkau memang berempati pada mereka, mampu merasakan yang mereka alami, turunlah dan carilah solusi bagi persoalan mereka, jangan kau eksploitir dengan bentuk yang lain, jangan Cuma memandang mereka sebagai objek artistic karyamu”
“Memang begitulah tugas seniman, urusan moral sudah ada bagiannya sendiri. Disana ada banyak ahli agama, ahli sosial dan ahli-ahli lainnya yang lebih tepat”
“Pakai jubah kesenianmu,… aku muak dengan ide-ide besarmu, aku muak dengan ocehan kosongmu.
Kecanggihan berpikirmu seperti tai”
Tiko, pertengahan tahun 2008
DI JAGAN
Pintu studioku kututup rapat, kuas-kuas kubiarkan berserakan. Sisa cat acrilik dan lukisan yang belum selesai dan tak juga kunjung selesai kutinggalkan sementara. Setelah kemarin aku mengunjungi keluarga di Jepara, kali ini keluarga di Cilacap mengharapkan kedatangan kami.
Di Yogyakarta tercinta kuselesaikan pekerjaan rumah yang belum selesai, lalu rombongan kecil kami, mas Bambang, mas Erie, Didik dan aku berangkat kecilacap. Kerumah saudara kami Teguh Eka Prasetya alias Tekap (he.he.he…) dan Agung Widyo (ho.ho.ho.ho…).
….
Dia sungguh berani, si ular kecil, ular dengan batikan di kulitnya, dengan dominasi warna hitam, menyusup ke studioku yang kemarin kututup rapat. Memang ada dua pintu disana, yang masing-masing memang memungkinkan ular kecil dapat masuk menyusup lewat bawah pintu yang tak begitu rapat dengan lantai.
Bisa atau racun dalam dirinya mungkin tak seberapa, tetapi untuk membuatmu pingsan aku kira itu memungkinkan jika yang takut cukup dengan visual, wadagnya, tubuh ular itu akan membuatmu menjerit-jerit karena bentuk dan warnanya geli menjijikkan.
Dia mungkin ingin menjadi salah satu modelku, dengan menggelitikku untuk mencari dan menghubungkan dengan konsep karya-karyaku belakangan ini yaitu seputar hewan dan makanan. Kemarin aku baru kedatangan kodok, coro, bunglon, bebek, cicak, nyamuk dsb. Yang awalnya sih datang untuk mengapresiasi karyaku, tetapi akhirnya sudah dan telah kubariskan rapi dalam kesatuan komposisi kavasku.
ada; Bebek Jagoan dan Penggembala Tengik 2008, Martabat Bunglon 2008, Kostum Kebesaran dan Pilihan Medan Renang 2008, Join 2008, Kalah Cepat 2008, Berebut Sampah 2008, Sarapan Pagi 2008, Makan Malam Terakhir 2008, Makan Besar 2009, dslb.
Tapi mengapa si ular hitam bisa tergencet kanvasku sampai mati dibawahnya, siapa yang menggencetnya, kapan ia tergencet, ah pertanyaan itu akan sulit terjawab. Dan aku tak mau sulit-sulit mencari jawabannya.
Ular-ular berbisa, ular di dalam diri manusia yang memakan manusia,
Kekuatan sihir, mulutmu yang berbisa dan berbusa,
Semburkan racunmu, racun retorikamu, racun analisamu,
Semburkan dengan kuat, aku sudah menantinya,
Ha.ha.ha.. asal engkau tahu,
Air liurku dari tadi sudah menetes
Menginginkannya.
Tiko, feb, 2009
Di Yogyakarta tercinta kuselesaikan pekerjaan rumah yang belum selesai, lalu rombongan kecil kami, mas Bambang, mas Erie, Didik dan aku berangkat kecilacap. Kerumah saudara kami Teguh Eka Prasetya alias Tekap (he.he.he…) dan Agung Widyo (ho.ho.ho.ho…).
….
Dia sungguh berani, si ular kecil, ular dengan batikan di kulitnya, dengan dominasi warna hitam, menyusup ke studioku yang kemarin kututup rapat. Memang ada dua pintu disana, yang masing-masing memang memungkinkan ular kecil dapat masuk menyusup lewat bawah pintu yang tak begitu rapat dengan lantai.
Bisa atau racun dalam dirinya mungkin tak seberapa, tetapi untuk membuatmu pingsan aku kira itu memungkinkan jika yang takut cukup dengan visual, wadagnya, tubuh ular itu akan membuatmu menjerit-jerit karena bentuk dan warnanya geli menjijikkan.
Dia mungkin ingin menjadi salah satu modelku, dengan menggelitikku untuk mencari dan menghubungkan dengan konsep karya-karyaku belakangan ini yaitu seputar hewan dan makanan. Kemarin aku baru kedatangan kodok, coro, bunglon, bebek, cicak, nyamuk dsb. Yang awalnya sih datang untuk mengapresiasi karyaku, tetapi akhirnya sudah dan telah kubariskan rapi dalam kesatuan komposisi kavasku.
ada; Bebek Jagoan dan Penggembala Tengik 2008, Martabat Bunglon 2008, Kostum Kebesaran dan Pilihan Medan Renang 2008, Join 2008, Kalah Cepat 2008, Berebut Sampah 2008, Sarapan Pagi 2008, Makan Malam Terakhir 2008, Makan Besar 2009, dslb.
Tapi mengapa si ular hitam bisa tergencet kanvasku sampai mati dibawahnya, siapa yang menggencetnya, kapan ia tergencet, ah pertanyaan itu akan sulit terjawab. Dan aku tak mau sulit-sulit mencari jawabannya.
Ular-ular berbisa, ular di dalam diri manusia yang memakan manusia,
Kekuatan sihir, mulutmu yang berbisa dan berbusa,
Semburkan racunmu, racun retorikamu, racun analisamu,
Semburkan dengan kuat, aku sudah menantinya,
Ha.ha.ha.. asal engkau tahu,
Air liurku dari tadi sudah menetes
Menginginkannya.
Tiko, feb, 2009
ANAK AJAIB
Ada sebuah gallery di sebuah kota, yang di pintu gerbangnya di jaga oleh seekor ular raksasa. Mulutnya selalu menganga, tubuhnya yang besar dan panjang melingkari bangunan itu. Suara desisnya membuat sekujur tubuh merinding, aura keseraman memancar jelas. Bulu kuduk siapa saja pastilah dibuatnya berdiri dan bagi yang penakut pasti dibuatnya terkencing-kencing, apalagi yang belum pernah merambah hutan dan tak pernah mempelajari jenis-jenis ular. Taring tajam di pangkal mulut yang menganga terlihat selalu menetes bisa berwarna hitam pekat. Ia memakan apa saja yang mendekat. Sapi, kerbau, anjing, bahkan manusia-pun disikatnya.
Suatu hari ada anak kecil yang nekat. Entahlah, mungkin ia keturunan pendekar dari padepokan mana, telah menguasai ilmu apa, dan mengantongi jimat apa sehingga ia gembelengan berjalan mendekat. Niatku ingin kuperingatkan untuk tak mendekat tetapi terlambat, anak kecil itu sudah persis berada tepat di depan ular besar tersebut. Dengan jantung berdebar dan menahan nafas was-was aku memperhatikan sambil jongkok dari kejauhan, sambil sesekali berdoa penuh kecemasan berharap anak itu selamat.
Semoga ular itu sudah kenyang-
Semoga ular itu sudah kenyang-
Semoga ia malu untuk makan anak-anak…
….
Tetapi dengan cepat aku dibuat terkejut, sungguh benar-benar terkejut melihat kejadian, sebuah pemandangan di depan mata kepalaku sendiri. Ajaib- ajaib gumanku.. sambil berdecak kagum, ck,ck,ck… Kulihat anak itu bercakap sambil mengelus kepala si ular, mata yang segede piring, yang biasanya berwarna merah menyala, kali ini tak memancarkan keseraman, bahkan terlihat merem melek keenakan dan sesekali terpejam lama. Kemudian kulihat anak kecil itu menjilati mukanya, taringnya, badannya yang terlihat licin tanpa rasa takut sedikitpun. Melihat itu semua, aku menjadi semakin bingung dibuatnya. Ajaib-ajaib….. pikirku.
Tiko, feb, 2009
Suatu hari ada anak kecil yang nekat. Entahlah, mungkin ia keturunan pendekar dari padepokan mana, telah menguasai ilmu apa, dan mengantongi jimat apa sehingga ia gembelengan berjalan mendekat. Niatku ingin kuperingatkan untuk tak mendekat tetapi terlambat, anak kecil itu sudah persis berada tepat di depan ular besar tersebut. Dengan jantung berdebar dan menahan nafas was-was aku memperhatikan sambil jongkok dari kejauhan, sambil sesekali berdoa penuh kecemasan berharap anak itu selamat.
Semoga ular itu sudah kenyang-
Semoga ular itu sudah kenyang-
Semoga ia malu untuk makan anak-anak…
….
Tetapi dengan cepat aku dibuat terkejut, sungguh benar-benar terkejut melihat kejadian, sebuah pemandangan di depan mata kepalaku sendiri. Ajaib- ajaib gumanku.. sambil berdecak kagum, ck,ck,ck… Kulihat anak itu bercakap sambil mengelus kepala si ular, mata yang segede piring, yang biasanya berwarna merah menyala, kali ini tak memancarkan keseraman, bahkan terlihat merem melek keenakan dan sesekali terpejam lama. Kemudian kulihat anak kecil itu menjilati mukanya, taringnya, badannya yang terlihat licin tanpa rasa takut sedikitpun. Melihat itu semua, aku menjadi semakin bingung dibuatnya. Ajaib-ajaib….. pikirku.
Tiko, feb, 2009
JATUH CINTA
Pada suatu hari aku cuma ingin jalan-jalan ke gallery, bukan satu atau sesuatu gallery melainkan kusatroni semuanya, tetapi dengan cara diam-diam. Mulutku kututup erat dengan kedua tanganku yang kurasakan semakin hari semakin lebar. Kulangkahkan kaki dengan mantap dari kosku yang semakin sesak dan pengap, entah karena apa.
Pada hari itu mataku kubiarkan jelalatan. Kulirik kiri, kulirik kanan, kutatap atas, kuintip bawah, hik.hik.hik… siapa tahu ketemu yang sedang aku cari.
Jangan pikir aku sedang cari ide hebat,
Jangan sangka aku lagi cari wacana bermutu tinggi,
Jangan curigai aku hendak “nyunggi” atau memuntahi karya seseorang,
Jangan kira aku mau memetakan sesuatu atau merancang sesuatu. Sudah beberapa lama tanganku telah kulatih untuk menunggu hari itu. Latihannya sih sepele; telapak tangan, disitulah fokusnya. Punggung dan muka dari talapak tangan. Aku cuma membolak-balik telapak tangan keatas lalu kebawah, keatas lagi kemudian kebawah lagi. Seperti itu berulang-ulang. Demi untuk menutupi suara kentut yang keluar dari mulutku yang semakin hari semakin tak terkendali. Tuut, thuuut, breet, thiiit dan sejuta nada-nada aneh sejenisnya.
Yang kucari di hari itu adalah yang ingin kulihat, bukan karya yang mengepalkan tangan dan berteriak-teriak, bukan yang sok filosofis, keminter, bukan karya yang merajuk, perayu ataupun penggoda, bukan karya yang penuh simpanan teka-teki masa lalu atau masa depan. Bukan karya yang cuek bebek dan tak peduli, bukan yang sok pahlawan atau pendamai, atau karya pewarta zaman kini, pengkhotbah, pendidik, atau apapun suara yang keluar dari mereka.
Dihadapan mereka aku meloncat-loncat, sesekali memutarinya dengan satu kaki. Kadang kupegangi tangannya dan berputar bareng. Sesekali juga aku iseng mencoleknya, bahkan kalau gregetan kucubit dia, padahal jelas-jelas ditulis besar di situ Don’t touch, mohon jangan menyentuh karya… ah bolehlah untukku dan untuknya, dia selalu menegurku masak aku tak menyapanya.
Dalam rapatnya kedua telapak tanganku mulutku tersenyum lebar. Jangan bilang siapa-siapa, matanya berbinar kepadaku, akupun membalasnya walaupun tanpa kata-kata.
tiko, jan. 2009
Pada hari itu mataku kubiarkan jelalatan. Kulirik kiri, kulirik kanan, kutatap atas, kuintip bawah, hik.hik.hik… siapa tahu ketemu yang sedang aku cari.
Jangan pikir aku sedang cari ide hebat,
Jangan sangka aku lagi cari wacana bermutu tinggi,
Jangan curigai aku hendak “nyunggi” atau memuntahi karya seseorang,
Jangan kira aku mau memetakan sesuatu atau merancang sesuatu. Sudah beberapa lama tanganku telah kulatih untuk menunggu hari itu. Latihannya sih sepele; telapak tangan, disitulah fokusnya. Punggung dan muka dari talapak tangan. Aku cuma membolak-balik telapak tangan keatas lalu kebawah, keatas lagi kemudian kebawah lagi. Seperti itu berulang-ulang. Demi untuk menutupi suara kentut yang keluar dari mulutku yang semakin hari semakin tak terkendali. Tuut, thuuut, breet, thiiit dan sejuta nada-nada aneh sejenisnya.
Yang kucari di hari itu adalah yang ingin kulihat, bukan karya yang mengepalkan tangan dan berteriak-teriak, bukan yang sok filosofis, keminter, bukan karya yang merajuk, perayu ataupun penggoda, bukan karya yang penuh simpanan teka-teki masa lalu atau masa depan. Bukan karya yang cuek bebek dan tak peduli, bukan yang sok pahlawan atau pendamai, atau karya pewarta zaman kini, pengkhotbah, pendidik, atau apapun suara yang keluar dari mereka.
Dihadapan mereka aku meloncat-loncat, sesekali memutarinya dengan satu kaki. Kadang kupegangi tangannya dan berputar bareng. Sesekali juga aku iseng mencoleknya, bahkan kalau gregetan kucubit dia, padahal jelas-jelas ditulis besar di situ Don’t touch, mohon jangan menyentuh karya… ah bolehlah untukku dan untuknya, dia selalu menegurku masak aku tak menyapanya.
Dalam rapatnya kedua telapak tanganku mulutku tersenyum lebar. Jangan bilang siapa-siapa, matanya berbinar kepadaku, akupun membalasnya walaupun tanpa kata-kata.
tiko, jan. 2009
Rombongan
Di dalam pameran bersama itu, dia pameran sendiri.
Mereka berpameran sendiri-sendiri.
Walaupun ditulis dengan kata kebersamaan, berselimut kehangatan, ditali persaudaraan, mereka, karya mereka belum saling kenal.
Tak terdengar sapa pun mesra.
Yang satu bilang ini, yang situ bilang itu. Yang sono bicara sendiri,
saling omong. Cuma dengan diri sendiri, maupun dengan orang yang kira-kira mau mendengarkan. Padahal dari tadi belum ada orang yang benar-benar mendengarkan.
Riuhnya mirip pasar. Suara gemuruh orang-orang bila kau dengar dari kesunyian.
Orang yang butuh sayur mendatangi penjual sayur. Terjadi transaksi, lahir dan batin. Orang yang butuh pakaian mencari penjual pakaian. Terjadi transaksi, lahir dan batin.
Seminggu, sebulan kemudian pasar pindah datang segerombolan pedagang-pedagang baru. Dengan metode sama.
Yang bajunya telah usang, mencari baju baru. Sayur yang kemarin telah jadi kotoran. Lapar, cari makan lagi di pasar.
Suatu hari terjadi keguncangan.
Penjual semakin lapar.
Pembeli tak ada uang.
Mulailah kejahatan tumbuh menjalar lebat dalam pasar.
Nafas mereka mulai sesak.
Saling tuding, saling tuduh, saling marah.
Mereka tak tahu harus berbuat apalagi.
Tiba-tiba seorang gila lewat. Aku tak tahan sendiri, aku tak tahan sendiri, masih dengan suara jeleknya ia nerocos sambil berjalan.
Walaupun kita sering ngobrol, ngopi, makan, bahkan tidur bareng, mandi bareng, mancing bareng, olah raga, olah rasa, tapi kenapa rasanya aku masih sendiri.
Kamu pun sendiri.
Apa kamu mau ikuti jejak si gila ini. Tiap hari bicara sendiri.
Aku minta putus dari kamu.
Dan aku memutuskanmu,
Jika keinginanmu adalah jalan sendiri-sendiri.
Penghuni pasar saling berpandangan, merekapun saling berbisik; ah Cuma orang gila, merekapun kembali dalam percakapan yang sama.
Bantah membantah.
Tiko, Des. 2008
Mereka berpameran sendiri-sendiri.
Walaupun ditulis dengan kata kebersamaan, berselimut kehangatan, ditali persaudaraan, mereka, karya mereka belum saling kenal.
Tak terdengar sapa pun mesra.
Yang satu bilang ini, yang situ bilang itu. Yang sono bicara sendiri,
saling omong. Cuma dengan diri sendiri, maupun dengan orang yang kira-kira mau mendengarkan. Padahal dari tadi belum ada orang yang benar-benar mendengarkan.
Riuhnya mirip pasar. Suara gemuruh orang-orang bila kau dengar dari kesunyian.
Orang yang butuh sayur mendatangi penjual sayur. Terjadi transaksi, lahir dan batin. Orang yang butuh pakaian mencari penjual pakaian. Terjadi transaksi, lahir dan batin.
Seminggu, sebulan kemudian pasar pindah datang segerombolan pedagang-pedagang baru. Dengan metode sama.
Yang bajunya telah usang, mencari baju baru. Sayur yang kemarin telah jadi kotoran. Lapar, cari makan lagi di pasar.
Suatu hari terjadi keguncangan.
Penjual semakin lapar.
Pembeli tak ada uang.
Mulailah kejahatan tumbuh menjalar lebat dalam pasar.
Nafas mereka mulai sesak.
Saling tuding, saling tuduh, saling marah.
Mereka tak tahu harus berbuat apalagi.
Tiba-tiba seorang gila lewat. Aku tak tahan sendiri, aku tak tahan sendiri, masih dengan suara jeleknya ia nerocos sambil berjalan.
Walaupun kita sering ngobrol, ngopi, makan, bahkan tidur bareng, mandi bareng, mancing bareng, olah raga, olah rasa, tapi kenapa rasanya aku masih sendiri.
Kamu pun sendiri.
Apa kamu mau ikuti jejak si gila ini. Tiap hari bicara sendiri.
Aku minta putus dari kamu.
Dan aku memutuskanmu,
Jika keinginanmu adalah jalan sendiri-sendiri.
Penghuni pasar saling berpandangan, merekapun saling berbisik; ah Cuma orang gila, merekapun kembali dalam percakapan yang sama.
Bantah membantah.
Tiko, Des. 2008
SURAT LAMARAN RAHASIA
Ditulis oleh Tiko, Nov. 08
Untuk Yth. Panitia Pameran Bergengsi Banget
Salam Budaya.
Perkenalkan nama saya Darmo Estetiko S.Sn. umur 41 tahun. Studio saya di dusun Ngumbar Rt.061 Rw.83 Roboh Jiwo, Bantul, Yogyakata, Indonesia. Bukankah anda semua sudah mengenal saya. Tapi tak apalah saya lakukan ini, bukankah semakin kenal semakin sayang?
Surat ini merupakan bentuk perhatian saya terhadap perkembangan sosial ekonomi berkesenian kita bersama.
Merespon acara yang anda rencanakan, saya sangat setuju dan mendukung 100%.
Rencana untuk membikin acara pameran akbar dengan model kompetisi dan kuratorial yang memadai sangat ditunggu kita semua. Oleh karena itulah saya terpaksa merendahkan diri dalam sikap kekeluargaan.
Jangan kuatir untuk menyertakan saya dalam pameran bergengsi anda kali ini. Pengalaman berkesenian saya sangat banyak. Kalau di tulis semua cuma buang-buang halaman katalog anda. Dan saya juga risih kalau dirasani, digunjingkan di belakang. Apalagi kalau difitnah dengan di bilang sombonglah, pamerlah, itu tidak sesuai dengan kejawaan saya.
Untuk isen-isen di katalog nantinya, baiklah akan saya tuliskan beberapa selected exhibition dan selected award. Gambarannya seperti ini. Sejak TK nol kecil saya sudah menjuarai lomba-lomba lukis. Kelakuan nakal tersebut berlanjut di SD, SMP, SMA, bahkan sampai masuk di Perguruan Tinggi Seni kenamaan di negeri ini. Bayangkan sertifikat dan piala, tropi yang menumpuk dirumah, hinga tanpa paksaan dikasih kepada tetangga kiri kanan, saudara, atau bahkan kasih ke tukang loak tanpa harus membayar. Coba sebutkan biennale, trienale lokal maupun internasional mana yang belum perah menyediakan tempat untuk aku. Oleh karenanya maaf, amat rugi jika melewatkan nama saya didalam acara anda.
Begini, seorang kritikus dan pemilik gallery pernah mengatakan: jangan cuma melihat kualitas karya seseorang, tetapi pertimbangkan masak-masak pengalaman berkesenian dan ratusan penghargaan yang dimilki seseorang. Karena hal itu merupakan katrol yang gampang diterima masyarakat luas. Iya toh? Tepat itu. Tentusaja saya pro dengan pendapat tersebut. Terlihat banget berwawasan luas. Maksud saya, dia tidak sekedar melihat dari kaca mata seni, melainkan dari bermacam sudut pandang termasuk dari menejemen seni, sosiologi seni, politik seni, ekonomi seni, kewibawaan-derajad seni, dan sebagainya. Bukankah kita diam-diam mulai menyadari bahwa seni adalah sebagai alat. Dan jika anda sependapat dan setuju, artinya anda telah belajar dengan baik.
Tetapi sebelumnya saya minta maaf. Untuk pameran bergensi dan berkelas buah ide anda, belum tersiapkan karyanya. Namun jangan takut jangan kuatir. Pasti nantinya jadi lukisan yang keren abis dan di jamin 99% terjual. Kan menguntungkan bagi anda dan gallery. Anda harus percaya itu, karena koneksi saya banyak dan backingan kolektor saya kuat.
Mengenai potongan 30% dari harga jual lukisan bagi karya yang berhasil terjual, bukankah itu terlalu sedikit dan tidak sebanding dengan pikiran dan tenaga yang telah dikeluarkan anda sekalian. Saya tahu itu masih dibagi-bagi untuk seluruh staff yang bekerja di sana. Sebagai orang yang perasa saya akan merasa malu apabila tidak melebihkan angka prosentase tadi. Mungkin 40%, 50% atau kalau perlu bagian saya yang 30%?. Jangan berfikir yang macam-macam dulu, ini adalah wujud rasa sosial saya. Saya sangat paham permasalahan itu.
Saya rasa sudah cukup surat cinta ini. Nanti dikira banyak omong, dan mengurangi kewibawaan saya sebagai seniman. Apalagi dituduh memuntahkan amunisi.. ih jelek banget ya istilah itu. Beserta surat ini saya lampirkan nomor telepon dan e-mail yang dapat dihubungi. Sekian terimakasih.
Salam budaya.
Dua hari setelah surat tersebut dikirimkan kepada panitia pameran. Darmo mendapatkan balasan melalui telepon dari hand phone nya.
“Halo, selamat siang. Saya dari panitia pameran bergengsi banget. Apakah benar sedang berbicara dengan mas Darmo Estetiko?”
“Ya, selamat siang juga. Betul dengan saya sendiri, Darmo Estetiko.”
“Begini mas Darmo, surat yang anda kirimkan sudah sampai. Setelah kami pelajari dan rundingkan beserta segenap panitia, merupakan kehormatan bagi kami untuk menyertakan anda dalam pameran bergengsi kali ini. Dan kami akan sangat bangga dengan menyertakan nama anda.”
“ Oh ya, terimakasih. Saya juga menyukai itu.”
“ Sama-sama, dan kami selaku panitia menunggu karya bapak sudah sampai di tempat pengumpulan dua hari lagi. Untuk detail hasil perundingannya kami akan mengirimkan surat tertulis ke alamat mas Darmo.”
“Ok.., Ok... Saya paham itu. Dua hari lagi pasti akan saya kirimkan karya untuk pameran ini.”
Merekapun saling berterima kasih dan berbahagia dalam ikatan perjanjian yang aneh.
Dua hari sejak itu merupakan batas akhir dari pengumpulan karya. Banyak seniman seni rupa antusias dalam mengikuti acara bergengsi tersebut. Seniman dari generasi tua maupun generasi muda saling bersaing dalam keharmonisan. Mencoba menggali kedalaman ide, menemukan kecerdasan pandangannya, menyuguhkan keartistikan visual melalui tema yang di garis bawahi panitia.
Dua hari terakhir banyak banyak karya masuk ke ruang seleksi. Merupakan kebiasaan seniman apabila mengumpulkan karya, yaitu pada hari-hari terakhir dengan alasan yang beragam. Intinya terletak pada rasa nikmat yang takterperikan, jika karyanya adalah termasuk golongan karya yang menelusup pelan ke atas meja panitia pada detik-detik terakhir sebelum pintu ditutup. Apalagi jika nantinya berhasil lolos mengikuti pameran dan menyingkirkan saingannya yang berjumlah ratusan. Seakan berasa enjakulasi yang kedua. Wuih nikmat sekali.
Pada hari yang kedua itu pula Tiwito Gores, seorang pelukis muda dengan cita-cita tinggi. Mengantarkan karya yang telah disiapkan dua bulan yang lalu. Sejak pengumuman yang di bacanya melalui tempelan poster di dinding lorong sempit kampusnya. Dengan semangat ia dibantu Budi sahabatnya untuk memegangi karya dengan naik motor bebek empat tak menyusuri jalan berdebu dari kosnya menuju tempat pengumpulan karya yang ditetapkan oleh panitia di kaki Gunung Merapi jalan Kaliurang Km.17.
Siang itu pukul 13.07 jalan Mataram sangat ramai. Kendaraan berlalu-lalang dari dua arah. Riuh suasana menambah penat siang yang terik itu. Ketika sampai perempatan, tiba-tiba entah mengapa dengan sekejap langit menjadi mendung. Awan gelap berduyun datang menyelimuti kota Yogyakarta. Gelap sekali. Petir menyambar disana-sini. Dalam hitungan detik hujan deras tak terelakkan. Semua kendaraan kecil menepi kejalan. Menghindari guyuran deras beserta angin kencang dari langit. Tak terkecuali Tiwito Gores dan karyanya yang bersemangat, beserta sahabatnya Budi harus menepi, cukup lama hujan tak kunjung reda. Karyanya mulai basah, kotor, dan rusak. Dilihatnya jam di tangan kiri, jarum yang pendek sudah menunjukkan angka lima. Dibayangkan jarak menuju tempat pengumpulan yang masih cukup jauh. Mukanya mulai terlihat lesu, diliriknya sahabatnya yang cuma diam membisu. Kehendak pribadinya tak mampu melawan kehendak alam yang berada diluar jangkauan perhitungannya. Angan-angannya untuk lolos seleksi, mempresentasikan karya didepan para juri dan kurator idolanya pupus bersama derasnya air hujan. Diapun pulang dengan rahasia yang masih terpendam. Tanpa diketahui oleh panitia pameran, oleh para juri, oleh peserta pameran, sahabat-sahabatnya, Darmo, Budi, bahkan oleh dirinya sendiri.
Untuk Yth. Panitia Pameran Bergengsi Banget
Salam Budaya.
Perkenalkan nama saya Darmo Estetiko S.Sn. umur 41 tahun. Studio saya di dusun Ngumbar Rt.061 Rw.83 Roboh Jiwo, Bantul, Yogyakata, Indonesia. Bukankah anda semua sudah mengenal saya. Tapi tak apalah saya lakukan ini, bukankah semakin kenal semakin sayang?
Surat ini merupakan bentuk perhatian saya terhadap perkembangan sosial ekonomi berkesenian kita bersama.
Merespon acara yang anda rencanakan, saya sangat setuju dan mendukung 100%.
Rencana untuk membikin acara pameran akbar dengan model kompetisi dan kuratorial yang memadai sangat ditunggu kita semua. Oleh karena itulah saya terpaksa merendahkan diri dalam sikap kekeluargaan.
Jangan kuatir untuk menyertakan saya dalam pameran bergengsi anda kali ini. Pengalaman berkesenian saya sangat banyak. Kalau di tulis semua cuma buang-buang halaman katalog anda. Dan saya juga risih kalau dirasani, digunjingkan di belakang. Apalagi kalau difitnah dengan di bilang sombonglah, pamerlah, itu tidak sesuai dengan kejawaan saya.
Untuk isen-isen di katalog nantinya, baiklah akan saya tuliskan beberapa selected exhibition dan selected award. Gambarannya seperti ini. Sejak TK nol kecil saya sudah menjuarai lomba-lomba lukis. Kelakuan nakal tersebut berlanjut di SD, SMP, SMA, bahkan sampai masuk di Perguruan Tinggi Seni kenamaan di negeri ini. Bayangkan sertifikat dan piala, tropi yang menumpuk dirumah, hinga tanpa paksaan dikasih kepada tetangga kiri kanan, saudara, atau bahkan kasih ke tukang loak tanpa harus membayar. Coba sebutkan biennale, trienale lokal maupun internasional mana yang belum perah menyediakan tempat untuk aku. Oleh karenanya maaf, amat rugi jika melewatkan nama saya didalam acara anda.
Begini, seorang kritikus dan pemilik gallery pernah mengatakan: jangan cuma melihat kualitas karya seseorang, tetapi pertimbangkan masak-masak pengalaman berkesenian dan ratusan penghargaan yang dimilki seseorang. Karena hal itu merupakan katrol yang gampang diterima masyarakat luas. Iya toh? Tepat itu. Tentusaja saya pro dengan pendapat tersebut. Terlihat banget berwawasan luas. Maksud saya, dia tidak sekedar melihat dari kaca mata seni, melainkan dari bermacam sudut pandang termasuk dari menejemen seni, sosiologi seni, politik seni, ekonomi seni, kewibawaan-derajad seni, dan sebagainya. Bukankah kita diam-diam mulai menyadari bahwa seni adalah sebagai alat. Dan jika anda sependapat dan setuju, artinya anda telah belajar dengan baik.
Tetapi sebelumnya saya minta maaf. Untuk pameran bergensi dan berkelas buah ide anda, belum tersiapkan karyanya. Namun jangan takut jangan kuatir. Pasti nantinya jadi lukisan yang keren abis dan di jamin 99% terjual. Kan menguntungkan bagi anda dan gallery. Anda harus percaya itu, karena koneksi saya banyak dan backingan kolektor saya kuat.
Mengenai potongan 30% dari harga jual lukisan bagi karya yang berhasil terjual, bukankah itu terlalu sedikit dan tidak sebanding dengan pikiran dan tenaga yang telah dikeluarkan anda sekalian. Saya tahu itu masih dibagi-bagi untuk seluruh staff yang bekerja di sana. Sebagai orang yang perasa saya akan merasa malu apabila tidak melebihkan angka prosentase tadi. Mungkin 40%, 50% atau kalau perlu bagian saya yang 30%?. Jangan berfikir yang macam-macam dulu, ini adalah wujud rasa sosial saya. Saya sangat paham permasalahan itu.
Saya rasa sudah cukup surat cinta ini. Nanti dikira banyak omong, dan mengurangi kewibawaan saya sebagai seniman. Apalagi dituduh memuntahkan amunisi.. ih jelek banget ya istilah itu. Beserta surat ini saya lampirkan nomor telepon dan e-mail yang dapat dihubungi. Sekian terimakasih.
Salam budaya.
Dua hari setelah surat tersebut dikirimkan kepada panitia pameran. Darmo mendapatkan balasan melalui telepon dari hand phone nya.
“Halo, selamat siang. Saya dari panitia pameran bergengsi banget. Apakah benar sedang berbicara dengan mas Darmo Estetiko?”
“Ya, selamat siang juga. Betul dengan saya sendiri, Darmo Estetiko.”
“Begini mas Darmo, surat yang anda kirimkan sudah sampai. Setelah kami pelajari dan rundingkan beserta segenap panitia, merupakan kehormatan bagi kami untuk menyertakan anda dalam pameran bergengsi kali ini. Dan kami akan sangat bangga dengan menyertakan nama anda.”
“ Oh ya, terimakasih. Saya juga menyukai itu.”
“ Sama-sama, dan kami selaku panitia menunggu karya bapak sudah sampai di tempat pengumpulan dua hari lagi. Untuk detail hasil perundingannya kami akan mengirimkan surat tertulis ke alamat mas Darmo.”
“Ok.., Ok... Saya paham itu. Dua hari lagi pasti akan saya kirimkan karya untuk pameran ini.”
Merekapun saling berterima kasih dan berbahagia dalam ikatan perjanjian yang aneh.
Dua hari sejak itu merupakan batas akhir dari pengumpulan karya. Banyak seniman seni rupa antusias dalam mengikuti acara bergengsi tersebut. Seniman dari generasi tua maupun generasi muda saling bersaing dalam keharmonisan. Mencoba menggali kedalaman ide, menemukan kecerdasan pandangannya, menyuguhkan keartistikan visual melalui tema yang di garis bawahi panitia.
Dua hari terakhir banyak banyak karya masuk ke ruang seleksi. Merupakan kebiasaan seniman apabila mengumpulkan karya, yaitu pada hari-hari terakhir dengan alasan yang beragam. Intinya terletak pada rasa nikmat yang takterperikan, jika karyanya adalah termasuk golongan karya yang menelusup pelan ke atas meja panitia pada detik-detik terakhir sebelum pintu ditutup. Apalagi jika nantinya berhasil lolos mengikuti pameran dan menyingkirkan saingannya yang berjumlah ratusan. Seakan berasa enjakulasi yang kedua. Wuih nikmat sekali.
Pada hari yang kedua itu pula Tiwito Gores, seorang pelukis muda dengan cita-cita tinggi. Mengantarkan karya yang telah disiapkan dua bulan yang lalu. Sejak pengumuman yang di bacanya melalui tempelan poster di dinding lorong sempit kampusnya. Dengan semangat ia dibantu Budi sahabatnya untuk memegangi karya dengan naik motor bebek empat tak menyusuri jalan berdebu dari kosnya menuju tempat pengumpulan karya yang ditetapkan oleh panitia di kaki Gunung Merapi jalan Kaliurang Km.17.
Siang itu pukul 13.07 jalan Mataram sangat ramai. Kendaraan berlalu-lalang dari dua arah. Riuh suasana menambah penat siang yang terik itu. Ketika sampai perempatan, tiba-tiba entah mengapa dengan sekejap langit menjadi mendung. Awan gelap berduyun datang menyelimuti kota Yogyakarta. Gelap sekali. Petir menyambar disana-sini. Dalam hitungan detik hujan deras tak terelakkan. Semua kendaraan kecil menepi kejalan. Menghindari guyuran deras beserta angin kencang dari langit. Tak terkecuali Tiwito Gores dan karyanya yang bersemangat, beserta sahabatnya Budi harus menepi, cukup lama hujan tak kunjung reda. Karyanya mulai basah, kotor, dan rusak. Dilihatnya jam di tangan kiri, jarum yang pendek sudah menunjukkan angka lima. Dibayangkan jarak menuju tempat pengumpulan yang masih cukup jauh. Mukanya mulai terlihat lesu, diliriknya sahabatnya yang cuma diam membisu. Kehendak pribadinya tak mampu melawan kehendak alam yang berada diluar jangkauan perhitungannya. Angan-angannya untuk lolos seleksi, mempresentasikan karya didepan para juri dan kurator idolanya pupus bersama derasnya air hujan. Diapun pulang dengan rahasia yang masih terpendam. Tanpa diketahui oleh panitia pameran, oleh para juri, oleh peserta pameran, sahabat-sahabatnya, Darmo, Budi, bahkan oleh dirinya sendiri.
Jelek Sekali
Hai kodok ijo!
Kamu iri ya sama mereka?
Ha.ha.ha paling kamu iri
Gak kebagian pesta nyamuk-
Semalam yah…
Ya ampun, sebab itu aja kok ngorek-nya
Jadi jelek sekali…
Kaka, Nov.08
Kamu iri ya sama mereka?
Ha.ha.ha paling kamu iri
Gak kebagian pesta nyamuk-
Semalam yah…
Ya ampun, sebab itu aja kok ngorek-nya
Jadi jelek sekali…
Kaka, Nov.08
Aryak Bisu II
(diucapkan dengan halus & lembut)
Apa yang kau katakan : Vaskun? Tac? Gurapi?
Kau bilang kau Isanluk?
Jadi kamu yang disebut Isanluk?
Lho kok diem saja? …. marah ya?
Iya, kamu cantik dech, manis dech
Tapi ngomong dong, jangan Cuma nampang
tiko, nov 08
Apa yang kau katakan : Vaskun? Tac? Gurapi?
Kau bilang kau Isanluk?
Jadi kamu yang disebut Isanluk?
Lho kok diem saja? …. marah ya?
Iya, kamu cantik dech, manis dech
Tapi ngomong dong, jangan Cuma nampang
tiko, nov 08
Aryak Bisu I
Ha. haa. ha
Huu . huu . hu..!
Hwa – hwa – hu (croot)
hih – hih
Hwa A . aaa. aaaa!!
huh (sreet)
Hwa . Hwu
(werrs)
Hwa
tiko.nov.08
Huu . huu . hu..!
Hwa – hwa – hu (croot)
hih – hih
Hwa A . aaa. aaaa!!
huh (sreet)
Hwa . Hwu
(werrs)
Hwa
tiko.nov.08
Untukku Anjing
“Anjing kau!! Termasuk jenis yang mana engkau yang berani-beraninya menggonggong di depanku!”
“Jenis-jenis diatas terlalu eklusif, sedangkan aku anjing kampong, kudisan, tak punya asal-usul jelas, makannya kalau ada pesta anjing, aku tak pernah diajak. Mungkin karena itu aku selalu nekat nongol di bawah kursi paling belakang, dan sesekali mencari sisa-sisa makanan saat pembukaan. Seperti kebanyakan kami para anjing dahulu, sebagai para snacker.”
Tiko.nov.08
Bukankah yang menggonggong Cuma engkau?. Nyatanya teman-temanmu gak ada yang peduli. Artinya engkau sendiri yang anjing. Kau memang aneh- anjing teriak anjing – itu tidak ada dalam terminologi bahasamu. Bukankah yang ada dan selalu masih berlangsung adalah maling teriak maling. Atau jangan-jangan engkau sejenis anjing pelacak milik polisi, yang bisa mengendus kejanggalan, mencari tahu yang terjadi, lewat jejak-jejak yang ditinggalkan mereka walaupun tersembunyi dalam gelap. Ah, itu terlalu berkelas. Dari potonganmu yang kusam, kerempeng, bau dan kudisan, menunjukkan kamu termasuk anjing kelas rendahan.
Mana mungkin kamu diajak pesta mereka. Itu bisa mengganggu kenyamanan mereka. Gelak tawa dan senda gurau bersama tamu undangan mereka. Mengajakmu sama juga menurunkan kelas mereka. Apalagi kalau ada kolektor tua yang lupa bawa kaca mata, melirik karyamu dan mengatakan karyamu lucu, bagus, itu yang berbahaya dan merupakan ancaman karena kolektor itu-kan yang ngundang mereka, sohib dan kenalan mereka. Apalagi jika sampai tanya alamat dan nomor rekening. Itu seperti tamparan di pipi kiri.
Paling kamu golongan anjing sakit hati. Salah sendiri selalu nongol di acara mereka, padahal tak diundang. Anjing yang nekat duduk dibawah kursi paling belakang, dan selalu berebut sisa-sisa makanan saat pembukaan pameran dengan kebanggaan romantisme snacker dari selatan. Sementara mereka yang di dalam sibuk tawar-menawar dan memberi lingkaran merah pada lembar judul karya di samping lukisan. Sedangkan kamu melihatnya sambil menahan lapar. Mata sayu dan air liur yang menetes deras diantara gigi taringmu mengatakan itu.
Anjing tidak perlu eksistensi
Anjing tidak mengumpulkan makanan
Maka jangan mencoba mengejar itu
Kecuali anjing peliharaan
Yang gagah bila diajak jalan-jalan
Sesekali diikutkan kontes
Untuk memperoleh penghargaan
Menambah riwayat pengalaman
Anjing liar, Anjing hutan, Anjing comberan
Menggonggonglah sesukamu
Kafilah tetap berlalu
“Jenis-jenis diatas terlalu eklusif, sedangkan aku anjing kampong, kudisan, tak punya asal-usul jelas, makannya kalau ada pesta anjing, aku tak pernah diajak. Mungkin karena itu aku selalu nekat nongol di bawah kursi paling belakang, dan sesekali mencari sisa-sisa makanan saat pembukaan. Seperti kebanyakan kami para anjing dahulu, sebagai para snacker.”
Tiko.nov.08
Bukankah yang menggonggong Cuma engkau?. Nyatanya teman-temanmu gak ada yang peduli. Artinya engkau sendiri yang anjing. Kau memang aneh- anjing teriak anjing – itu tidak ada dalam terminologi bahasamu. Bukankah yang ada dan selalu masih berlangsung adalah maling teriak maling. Atau jangan-jangan engkau sejenis anjing pelacak milik polisi, yang bisa mengendus kejanggalan, mencari tahu yang terjadi, lewat jejak-jejak yang ditinggalkan mereka walaupun tersembunyi dalam gelap. Ah, itu terlalu berkelas. Dari potonganmu yang kusam, kerempeng, bau dan kudisan, menunjukkan kamu termasuk anjing kelas rendahan.
Mana mungkin kamu diajak pesta mereka. Itu bisa mengganggu kenyamanan mereka. Gelak tawa dan senda gurau bersama tamu undangan mereka. Mengajakmu sama juga menurunkan kelas mereka. Apalagi kalau ada kolektor tua yang lupa bawa kaca mata, melirik karyamu dan mengatakan karyamu lucu, bagus, itu yang berbahaya dan merupakan ancaman karena kolektor itu-kan yang ngundang mereka, sohib dan kenalan mereka. Apalagi jika sampai tanya alamat dan nomor rekening. Itu seperti tamparan di pipi kiri.
Paling kamu golongan anjing sakit hati. Salah sendiri selalu nongol di acara mereka, padahal tak diundang. Anjing yang nekat duduk dibawah kursi paling belakang, dan selalu berebut sisa-sisa makanan saat pembukaan pameran dengan kebanggaan romantisme snacker dari selatan. Sementara mereka yang di dalam sibuk tawar-menawar dan memberi lingkaran merah pada lembar judul karya di samping lukisan. Sedangkan kamu melihatnya sambil menahan lapar. Mata sayu dan air liur yang menetes deras diantara gigi taringmu mengatakan itu.
Anjing tidak perlu eksistensi
Anjing tidak mengumpulkan makanan
Maka jangan mencoba mengejar itu
Kecuali anjing peliharaan
Yang gagah bila diajak jalan-jalan
Sesekali diikutkan kontes
Untuk memperoleh penghargaan
Menambah riwayat pengalaman
Anjing liar, Anjing hutan, Anjing comberan
Menggonggonglah sesukamu
Kafilah tetap berlalu
Persaingan Anjing
tiko, nov.08
Disebuah bangunan bernama pasar dan wacana yang berdiri megah, didatangi segerombolan anjing liar. Di depan pintu yang berukir indah, mereka menggedor, menendangnya, menggonggong keras, berteriak-teriak namun tak kunjung dibukakan jua. Karena mereka yang di dalam lagi dugem, berjojing ria, sebagian lagi memakai earphone dengan musik yang menghentak keras.
Dasar anjing. Yang tak kuat menahan lapar akhirnya pergi menyusuri jalanan. Mencari sisa makanan di tempat sampah. Sesekali di lempar batu dan di tendang anak-anak. Sementara yang bertahan dipintu dengan setia walau tubuh gemetar karena lapar masih juga berharap kepada mereka yang di dalam membukakan pintu. Angan mereka adalah menjadi seperti anjing beruntung yang di banggakan tuannya di dalam.Persaingan antar anjing memang sengit, kampus-kampus dimana mereka belajar memang mengajarkan persaingan. Anjing pudel belajar bagaimana tampil cantik, anjing herder balajar nampang serem, anjing srigala belajar menggonggong saat malam purnama. Estetikanya artistik anjing, kecerdasannya imajiner anjing, finisnya kontemporery anjing. Naluri keanjingan mereka adalah melindungi tuannya dan hartanya dari pencurian. Ketika anjing-anjing lain mendekat, artinya sinyal ancaman bagi mereka.
Belajar berbagi cuma mereka dapatkan ketika semester-semester awal, dengan metode gelas dan teko. Teko berputar mencari receh dan ribuan. Setelah sampai ujung teko berganti isi menjadi minuman. Gantian gelas berputar. Mempertemukan bibir-bibir mereka dengan bibir gelas yang satu. Menjadi sebuah kenangan yang menghangatkan.
Dalam dunia anjing kerugian yaitu ketika tuannya memiliki peliharaan anjing lain. Karena itu kasih sayang tuannya harus terbagi. Otomatis berpengaruh pada menu makanan yang diperolehnya. Apalagi kalau jenis saingannya adalah anjing berkelas dan mahal, pastilah lahir arogansi tersendiri.
Hal yang membahagiakan adalah ketika tuannya mengajak jalan-jalan bertemu dengan kolega. Kesempatan tersebut tentunya digunakan untuk mencuri perhatian mereka, untuk sekedar dibelai, dicubit, atau dikasih roti dan tulang di muka atau di belakang si boss. Hal tersebut dikenal dengan istilah polianjing, dan sah di dunia anjing. Bahkan merupakan cita-cita anjing yang selalu ditutup-tutupi.
Disebuah bangunan bernama pasar dan wacana yang berdiri megah, didatangi segerombolan anjing liar. Di depan pintu yang berukir indah, mereka menggedor, menendangnya, menggonggong keras, berteriak-teriak namun tak kunjung dibukakan jua. Karena mereka yang di dalam lagi dugem, berjojing ria, sebagian lagi memakai earphone dengan musik yang menghentak keras.
Dasar anjing. Yang tak kuat menahan lapar akhirnya pergi menyusuri jalanan. Mencari sisa makanan di tempat sampah. Sesekali di lempar batu dan di tendang anak-anak. Sementara yang bertahan dipintu dengan setia walau tubuh gemetar karena lapar masih juga berharap kepada mereka yang di dalam membukakan pintu. Angan mereka adalah menjadi seperti anjing beruntung yang di banggakan tuannya di dalam.Persaingan antar anjing memang sengit, kampus-kampus dimana mereka belajar memang mengajarkan persaingan. Anjing pudel belajar bagaimana tampil cantik, anjing herder balajar nampang serem, anjing srigala belajar menggonggong saat malam purnama. Estetikanya artistik anjing, kecerdasannya imajiner anjing, finisnya kontemporery anjing. Naluri keanjingan mereka adalah melindungi tuannya dan hartanya dari pencurian. Ketika anjing-anjing lain mendekat, artinya sinyal ancaman bagi mereka.
Belajar berbagi cuma mereka dapatkan ketika semester-semester awal, dengan metode gelas dan teko. Teko berputar mencari receh dan ribuan. Setelah sampai ujung teko berganti isi menjadi minuman. Gantian gelas berputar. Mempertemukan bibir-bibir mereka dengan bibir gelas yang satu. Menjadi sebuah kenangan yang menghangatkan.
Dalam dunia anjing kerugian yaitu ketika tuannya memiliki peliharaan anjing lain. Karena itu kasih sayang tuannya harus terbagi. Otomatis berpengaruh pada menu makanan yang diperolehnya. Apalagi kalau jenis saingannya adalah anjing berkelas dan mahal, pastilah lahir arogansi tersendiri.
Hal yang membahagiakan adalah ketika tuannya mengajak jalan-jalan bertemu dengan kolega. Kesempatan tersebut tentunya digunakan untuk mencuri perhatian mereka, untuk sekedar dibelai, dicubit, atau dikasih roti dan tulang di muka atau di belakang si boss. Hal tersebut dikenal dengan istilah polianjing, dan sah di dunia anjing. Bahkan merupakan cita-cita anjing yang selalu ditutup-tutupi.
Tempat Untuk Sembunyi
Tiko, okto 2008
Bukan lagi muluk dalam berkesenian
Tidak berangan memiliki rumah gedongan
Mobil dan motor yang harganya ratusan juta rupiah
Lukisan dengan harga milyaran rupiah
Diantri berjajar puluhan kolektor
Dijunjung-junjung kurator
Dilipstiki kritikus
Diulas tiap hari oleh koran dan majalah
Ditayangkan siang malam oleh televisi
Sebenarnya simpel saja, di apresiasi
Dengan wajar di ijinkan sesekali
Terpajang di dinding-dinding gallery sendiri
Maupun bersama saudara-saudaraku disana
Lukisanku tiap hari menangis
Drawing-drawingku mengerang
Coretanku menjerit…
Teriakannya pada suatu hari:
“Kenapa kau sembunyikan aku, kau sandingkan debu dan sarang
Kau gulung seperti tikar
Kau telingsutkan di gudang gelap nan lembab
Jamur, Coro, Tikus, Teter, Nyamuk
Mereka, mereka yang engkau suruh
Mengapresiasi aku, mencakarku, mengoyakku, mengencingiku.
Masih adakah manusia di situ!”
(Aku terperanjat) “Hey karya tolol, karya jelek, jangan salahkan aku. Seorang sahabat yang beberapa tahun lagi akan menjadi buah bibir, yang orang-orang akan berdecak kagum pada tehnik dan ide-ide karyanya mengatakan perbaiki terus karyamu.
Artinya emang kamu cocok jadi sampah.
Jangan memarahiku apalagi mempengaruhiku.”
“Tapi aku telah kau buat, telah kau lahirkan. Engkau bertanggung jawab penuh- kau harus terima bagaimanapun aku.”
“Aku mengerti itu, dan bukan berarti aku tak mau memperkenalkanmu, mengeluarkanmu, menunjukkan rupamu kepada mereka, melainkan melainkan mereka tak ada yang mau menoleh kepadamu, mereka hanya melihat sesuai dengan yang dinginkan perut, mata, telinga, dan kelaminnya, sesuai dengan kesenangannya.
Jangankan melihatmu, melihatku saja harus sesuai dengan penalaran mata mereka.”
“Dan kamu membela mereka”
“Bukannya begitu, aku adalah bagian dari keseluruhan mereka”
“Bagaimana jika nanti kamu harus mempertanggung jawabkan ini semua”
“Aku juga tidak tahu, harus berbuat bagaimana lagi. Apakah aku harus menggali lobang-lobang terowongan cacing untuk bersembunyi dari terik matahari ini, sedangkan kenyataannya sudah tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.”
Bukan lagi muluk dalam berkesenian
Tidak berangan memiliki rumah gedongan
Mobil dan motor yang harganya ratusan juta rupiah
Lukisan dengan harga milyaran rupiah
Diantri berjajar puluhan kolektor
Dijunjung-junjung kurator
Dilipstiki kritikus
Diulas tiap hari oleh koran dan majalah
Ditayangkan siang malam oleh televisi
Sebenarnya simpel saja, di apresiasi
Dengan wajar di ijinkan sesekali
Terpajang di dinding-dinding gallery sendiri
Maupun bersama saudara-saudaraku disana
Lukisanku tiap hari menangis
Drawing-drawingku mengerang
Coretanku menjerit…
Teriakannya pada suatu hari:
“Kenapa kau sembunyikan aku, kau sandingkan debu dan sarang
Kau gulung seperti tikar
Kau telingsutkan di gudang gelap nan lembab
Jamur, Coro, Tikus, Teter, Nyamuk
Mereka, mereka yang engkau suruh
Mengapresiasi aku, mencakarku, mengoyakku, mengencingiku.
Masih adakah manusia di situ!”
(Aku terperanjat) “Hey karya tolol, karya jelek, jangan salahkan aku. Seorang sahabat yang beberapa tahun lagi akan menjadi buah bibir, yang orang-orang akan berdecak kagum pada tehnik dan ide-ide karyanya mengatakan perbaiki terus karyamu.
Artinya emang kamu cocok jadi sampah.
Jangan memarahiku apalagi mempengaruhiku.”
“Tapi aku telah kau buat, telah kau lahirkan. Engkau bertanggung jawab penuh- kau harus terima bagaimanapun aku.”
“Aku mengerti itu, dan bukan berarti aku tak mau memperkenalkanmu, mengeluarkanmu, menunjukkan rupamu kepada mereka, melainkan melainkan mereka tak ada yang mau menoleh kepadamu, mereka hanya melihat sesuai dengan yang dinginkan perut, mata, telinga, dan kelaminnya, sesuai dengan kesenangannya.
Jangankan melihatmu, melihatku saja harus sesuai dengan penalaran mata mereka.”
“Dan kamu membela mereka”
“Bukannya begitu, aku adalah bagian dari keseluruhan mereka”
“Bagaimana jika nanti kamu harus mempertanggung jawabkan ini semua”
“Aku juga tidak tahu, harus berbuat bagaimana lagi. Apakah aku harus menggali lobang-lobang terowongan cacing untuk bersembunyi dari terik matahari ini, sedangkan kenyataannya sudah tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.”
Langganan:
Postingan (Atom)